Menpan Mimpi Punya BUMN Peternakan

BUMN peternakan perlu karena Indonesia ingin mencapai swasembada daging.

Selasa, 7 September 2010, 13:22 WIB
Arinto Tri Wibowo, Agus Dwi Darmawan
Peternakan ayam potong di Bogor (Antara/ Jafkhairi)

VIVAnews - Kementerian Pertanian berharap dibentuknya Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang membidangi peternakan. Rencana itu ingin diwujudkan dalam enam tahun ke depan.
 
Menurut Menteri Pertanian Suswono, BUMN peternakan perlu karena Indonesia ingin mencapai swasembada daging. "Dengan BUMN peternakan ini akan membantu daya dukung swasembada daging," kata Suswono di sela penyelenggaraan pasar murah di Kelurahan Klender, Jakarta, Selasa 7 September 2010.
 
Dia menjelaskan, daya dukung ini di antaranya terkait bagaimana Indonesia untuk jangka panjang bisa menyelamatkan plasma nutfah benih-benih unggul.

"Jadi, tidak hanya untuk sapi betina produktif yang dilakukan sekarang, tapi lebih pada orientasi menciptakan keunggulan sektor peternakan," ujarnya.
 
Keinginan ini, Suswono melanjutkan, memiliki tujuan baik. Pernah pada era 1970-an, Indonesia sebenarnya sudah memiliki BUMN ternak dengan nama Bina Mulya Ternak.
 
"Sayang, BUMN ini mati karena dulu tidak ada perencanaan jangka panjang. Semua benih diekspor. Makanya ini perlu dihidupkan lagi," ujarnya.
 
Namun, targetnya kapan dan berapa dana yang dibutuhkan, Kementerian Pertanian belum menyiapkannya. Saat ini, dorongan membentuk BUMN peternakan baru mulai dirintis dengan membina perusahaan-perusahaan swasta.
 
"Kami ada PT Berdikari di Sulawesi Selatan, ini sudah mulai. Mereka jadi rintisan untuk membuat BUMN peternakan. Mimpi kami adalah kalau di pertanian ada PT Sang Hyang Sri, maka di peternakan nanti ada BUMN serupa," kata dia. (umi)



• VIVAnews   |   Share :  
Rating
Komentar
Erie
26/10/2010
Judulnya koq tidak sesuai ya, saya kira Menpan itu Menteri Pendayagunaan Aparatun Negara, kalau menteri Pertanian kayaknya Mentan.
Balas   • Laporkan
loebangetl
23/09/2010
saya dukung itu pak mentri malu dong kita negara kaya masa import daging truz padahal kalo di kelola sacara seriuz kita pasti bisa, sarana dan prasarana kita sudah cukup bahkan lebih, berdayakan tenaga ahli kita, kalo perlu kita exsport keseluruh dunia.
Balas   • Laporkan
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ