VIVAnews - Wakil Presiden (Wapres) RI Boediono mengaku prihatin dengan realisasi lifting minyak yang cenderung terus menurun selama beberapa tahun terakhir. Padahal lifting minyak sangat dibutuhkan sebagai sumber pendapatan negara.
"Kami berusaha agar lifting minyak dinaikkan, karena beberapa tahun terakhir cenderung turun walau sekarang mulai stabil," kata Boedionodi rumah dinasnya, semalam.
Menurut Boediono, lifting minyak merupakan salah satu faktor penting dalam perhitungan asumsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Lifting minyak menjadi lebih penting karena jika target tidak terpenuhi, artinya uang yang seharusnya masuk dalam anggaran pemerintah menjadi hilang.
"Yang penting bagi asumsi APBN adalah lifting minyak karena uangnya hilang (kalau tidak tercapai)," katanya.
Sebagai catatan, pada tahun 2004 lifting minyak Indonesia mencapai 1.037 barel per hari (bph). Namun, sejak 2005 kondisi itu berubah di mana terjadi penurunan lifting minyak menjadi 1.003 bph, tahun 2006 turun menjadi 957 bph, dan pada 2007 anjlok menjadi 898 bph.
Pada tahun 2008, kondisi mulai membaik dengan adanya kenaikan lifting minyak menjadi 931 bph dan pada 2009 menjadi 944 bph. Untuk tahun 2010, pemerintah menargetkan lifting minyak bisa mencapai 965 bph," ujarnya.
Boediono yang merupakan mantan Menko Perekonomian juga menjelaskan faktor lifting dalam asumsi APBN lebih penting dibandingkan dengan faktor lain seperti nilai kurs Rupiah dan inflasi.
Pasalnya tidak tercapainya inflasi atau kurs Rupiah bisa ditutupi dengan faktor lain yang menggantikannya. "Kurs dan inflasi itu bisa diganti dari kiri dan kanan," katanya seraya menambahkan bahwa pemerintah selama ini cukup baik dalam menjaga kurs dan inflasi setiap tahunnya. (umi)