Bisnis

Ekonom: BI Tak Bisa Batasi Ekspansi Malaysia

BI tak mempunyai dasar menolak ekspansi Malaysia kecuali memberlakukan mekanisme penalti.

Kamis, 2 September 2010, 20:06 WIB
Arinto Tri Wibowo, Nur Farida Ahniar
Menara Petronas Malaysia (AP Photo)

VIVAnews - Pengamat ekonomi Dradjad Wibowo menilai Bank Indonesia (BI) tidak bisa membatasi ekspansi bank milik Malaysia di Indonesia. Hal itu karena aturan Bank Indonesia memang cukup lemah untuk membatasi ekspansi bank asing.

Undang-Undang Perbankan memperbolehkan bank dimiliki asing hingga 99 persen. BI tidak mempunyai dasar menolak ekspansi Malaysia kecuali jika memberlakukan mekanisme penalti.

"Misalnya jika ternyata bank kita dipersulit bisa menjatuhkan penalti," ujar Dradjad di Jakarta, Kamis 2 September 2010.

Namun, menurut dia, seharusnya Indonesia menerapkan asas resiprokal. Hal tersebut bisa berlaku jika pemerintah Indonesia, yang diwakili Kementerian Luar Negeri dapat membahas masalah ini.

BI, dia melanjutkan, dapat membatasi ekspansi jumlah cabang dan aktivitas usaha melalui Peraturan BI. Namun aturan itu masih lemah.

Seperti diketahui, ekspansi perbankan Indonesia seperti PT Bank Mandiri Tbk ke Malaysia tak semudah Malaysia membuka bank di Indonesia. Bank Mandiri yang ingin membuka cabang hanya diberikan izin outlet yang masih terbatas pada jasa pengiriman uang (cash to account).

Namun, BI lebih memilih untuk berbicara baik-baik dengan Bank Sentral Malaysia terkait sulitnya Bank Mandiri untuk mendirikan cabang di Malaysia. BI tidak menerapkan asas resiprokal kepada bank Malaysia.

Darmin mengakui untuk membuka cabang di Malaysia memang lebih sulit. Bank Mandiri yang ingin membuka cabang, harus mendirikan anak usaha.

• VIVAnews
Rating
Komentar
dHeBee
16/10/2010
hhhmmmmmmmm ..... sy bner2 prihatin Indonesiaa inii kaya tapii banyak org miskiin, karnaa kekayaanNya jstruu bnyak di nikmatii org negerii Luaar.
Balas   • Laporkan
mapsihotang
04/09/2010
urusan pertahanan lemah, perbankan lemah, ketenagakerjaan lmh.....semua serba lemah....tapi kalau korupsi Indonesia paling kuat....emang payahhhh.....
Balas   • Laporkan
Arul
03/09/2010
Bubar aja INDONESIA
Balas   • Laporkan
edun
03/09/2010
Yang simpan uang nya di bank milik malaysia, pindahkan ke bank milik bangsa sendiri, buat kemajuan bangsa sendiri. kali aja perang jadi, hilang tuh uang yg di simpan di bank milik malaysia.
Balas   • Laporkan
Cak_Ndomblong
03/09/2010
lagi2 kita lemah berhadapan dng malayshit-ia kampret itu!! urusan pertahanan lemah, perbankan lemah, ketenagakerjaan lmh. trs apanya yang kuat? koar2 & bohongnya pemimpin2 kita? ya memang itu yg nyata2 kelihatan.
Balas   • Laporkan
watongbest
03/09/2010
AYOOO KITA DEMO BI.....bawa alat apa saja ...biar kapok yang bikin uu BI....
Balas   • Laporkan
ukm
03/09/2010
Kok pak Bud gak ada suaranya nich....bukannya zaman beliau di BI aturan ini muncul utk mengakomodasikan keinginan IMF...
Balas   • Laporkan
wong cilik
02/09/2010
kasian dech bangsaku kalau bank aja jadi milik negara asing gimana kita mau maju.yg ada bentuk jajahan baru .kapan kita merdeka ....kalau yg penting jd aset mereka juga.tragis sekali .pemerintah malaisia aja bisa lindungi banknya masa indonesia ga bisa ??
Balas   • Laporkan
PejabatBIkorup
02/09/2010
Ya iyalah semua bankir udah tau kalo buka cabang di luar negri itu susahnya bukan main... lalu, kenapa BI mudah sekali kasih ijin ke pesaham asing? ya karena sudah disuap... kalo enggak, gak mungkin buat kebijakan aneh...
Balas   • Laporkan
ady
02/09/2010
dari pemimpin sampai peraturan semuanya lemah. lalu indonesia apanya yang kuat???? kuat ambil utang kaliiiiiiii
Balas   • Laporkan
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atau 
  
webtorial