Bisnis

"Defisit Dagang dari China Kian Mencemaskan"

Perdagangan bebas telah membuat barang-barang nonmigas bebas masuk ke Indonesia.

Kamis, 2 September 2010, 15:49 WIB
Hadi Suprapto, Iwan Kurniawan
Target Pertumbuhan Ekspor 2010 : Peti Kemas (VIVAnews/Tri Saputro)

VIVAnews – Defisitnya neraca perdangan Indonesia merupakan lampu kuning bagi industri dalam negeri. Selama ini perdagangan Indonesia terbantu dengan ekspor minyak dan gas. 

Jika dilihat dari neraca perdagangan nonmigas dengan negara-negara pemilik perjanjian perdagangan bebas, maka sesungguhnya defisit neraca perdagangan Indonesia sudah mengkhawatirkan, khususnya dengan China.

“Yang paling memprihatinkan dengan China," kata Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri Kementerian Perindustrian Dedi Mulyadi di kantornya, Jakarta, Kamis, 2 September 2010.

Sepanjang Januari-Juli, impor nonmigas dari China sebesar US$10,97 miliar, sedangkan ekspor Indonesia ke China hanya US$6,9 miliar. "Tentu dampaknya adalah produksi dalam negeri tergilas karena impor tidak dapat dibendung,” ujarnya.

Selain China, negara-negara lain yang telah menjalin perjanjian perdagangan bebas yang juga defisit adalah Singapura, Thailand, Jepang, dan Australia. "Defisit yang terjadi memang masih tipis, tapi kalau tidak diantisipasi impor tidak dapat dibendung," katanya.

“Ini merupakan lampu kuning bagi industri dalam negeri. Kalau kita tidak berbuat sesuatu kecenderungan impor semakin besar."

Menurut Dedi ada dua cara untuk mencegah serbuan produk impor, yang pertama adalah labelisasi Standar Nasional Indonesia (SNI), karena SNI masih efektif untuk mencegah masuknya serbuan barang asing. Cara yang kedua adalah mendorong seluruh potensi untuk mencintai produk dalam negeri. “Gerakan cinta dalam negeri harus terus jalan,” katanya.

Dedi mengatakan, gerakan cinta produk dalam negeri harus dimulai dari Pemerintah dan Badan Usaha Milik Negara. Dia mempertanyakan apakah selama ini BUMN belanja produk dalam negeri? Jika semua BUMN membeli produk dalam negeri, maka berdampak positif bagi industri lokal.

• VIVAnews
Rating
Komentar
Thomas
07/10/2010
Waduh,, itulah dampak dari globalisasi, ,
Balas   • Laporkan
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atau 
  
webtorial