VIVAnews - Bank Indonesia (BI) menilai pertumbuhan kredit masih mencapai 12,5 persen dari awal tahun (year to date). Namun, secara year on year, pertumbuhan kredit sudah melampaui 20 persen.
Menurut Pjs Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution, pertumbuhan kredit tersebut masih agak lambat. Dengan pertumbuhan ekonomi sekitar enam persen, dia berharap kredit bisa meningkat di atas 20 persen.
"Pada akhir tahun, semestinya pertumbuhan kredit itu (20 persen) bisa tercapai," kata Darmin usai rapat dengan Badan Anggaran di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Jakarta, Selasa 31 Agustus 2010.
Sebelumnya, BI mencatat selama pekan kedua Agustus (9-13 Agustus 2010) kredit naik Rp5,44 triliun atau menjadi Rp1.592,3 triliun. Secara year to date, kredit tumbuh 11,33 persen atau 19,54 persen secara year on year.
Menurut Kepala Biro Humas BI, Difi A Johansyah, penyaluran kredit itu tidak diimbangi dengan kenaikan dana pihak ketiga (DPK). DPK turun Rp8,4 triliun menjadi Rp2.058,79 triliun, sehingga secara year to date hanya tumbuh 4,48 persen, atau 13,84 persen (year on year).
Kredit dengan mata uang rupiah meningkat Rp3,79 triliun dan valas Rp1,64 triliun. Secara tahunan, pertumbuhan kredit rupiah 21,82 persen, atau lebih tinggi dari kredit valas 6,95 persen.
Sementara itu, penurunan DPK terutama disebabkan turunnya dana nasabah dalam rupiah sebesar Rp12,99 triliun karena kontraksi antara lain setoran pajak serta pembayaran haji, sedangkan DPK valas meningkat Rp4,6 triliun. (sj)