VIVAnews - Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) memperkirakan tren lonjakan impor akan berlanjut pada semester kedua tahun ini. Hal itu disebabkan terjadinya pembiaran pelemahan daya saing industri nasional serta kian meningkatnya ketergantungan bahan pangan impor.
“Belum ada langkah-langkah jangka pendek yang sistematis bagaimana menaikkan daya saing, dan meredam impor,” kata Ketua Umum HIPMI Erwin Aksa dalam keterangan tertulis, Senin 30 Agustus 2010.
Erwin mengatakan, ketergantungan produk impor kian meluas menyusul makin kurang kompetitifnya daya saing industri dalam negeri. Daya saing sejumlah industri terus tergerus, dan terancam gulung tikar, sebab produk mereka digeser oleh produk asal China. ”Seperti ada pembiaran kondisi semacam ini," katanya.
HIPMI memperkirakan tren lonjakan impor akan berdampak pada lambatnya pertumbuhan ekspor. Sebab, produk Indonesia juga harus bersaing dengan produk dari berbagai negara yang memiliki daya saing tinggi. “Untungnya ekspor kita ditopang produk mentah seperti CPO (minyak sawit mentah) dan batu bara, selebihnya untuk olahan kita belum bisa bersaing,” ujarnya.
Padahal, pemerintah menargetkan pertumbuhan industri tahun depan sekitar 4,5 - 5 persen. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan, ekspor Indonesia pada Juni 2010 sebesar US$12,29 miliar atau menurun sebesar 28,7 persen dibandingkan dengan ekspor Mei. Sebaliknya, nilai impor justru melesat 17,36 persen menjadi US$11,71 miliar.
Dalam pantauan HIPMI, lebih dari 60 persen kebutuhan konsumsi Lebaran 2010, merupakan produk impor. Mulai dari makanan, minuman, sampai tekstil. Hingga Agustus, data menunjukan terjadinya lonjakan kenaikan barang impor kebutuhan konsumsi hingga 39 persen.
”Lebaran kali ini sangat berbeda dengan tahun lalu. Saat itu kebanyakan masyarakat masih mengkonsumsi produk-produk lokal,” kata Erwin.