Pengusaha Sawit Tak Butuh Pinjaman Bank Dunia

"Kondisi industri sawit tidak seperti dulu. Sekarang pengusaha bisa cari kredit sendiri."

Kamis, 26 Agustus 2010, 20:54 WIB
Arinto Tri Wibowo
kelapa sawit (Antara/Maril Gafur)

VIVAnews - Industri kelapa sawit di Indonesia berkembang pesat selama 30 tahun. Pertumbuhan itu membuat Indonesia tidak perlu lagi mencari kredit bagi industri kelapa sawit. Indonesia akan menolak kucuran kredit Bank Dunia dan International Finance Corporation (IFC).

Pada 31 Agustus 2010, Indonesia akan mengikuti World Bank Group Consultation On Palm Oil di Frankurt, Jerman.

Menurut Wakil Menteri Perdagangan Mahendra Siregar, selama ini World Bank dan IFC melakukan moratorium kredit di sektor kelapa sawit karena banyak tekanan sustainability. Indonesia berharap pada diskusi nanti, World Bank dan IFC memiliki framework baru tentang kelapa sawit.

"Framework-nya, melihat kelapa sawit sebagai perpaduan yang berimbang antara lingkungan, ekonomi, dan kesejahteraan masyarakat," kata Mahendra Siregar di Jakarta, Kamis 26 Agustus 2010.

Menurut Mahendra, tiga puluh tahun yang lalu Bank dunia memiliki peranan penting dalam mengembangkan kelapa sawit di Indonesia. Badan dunia itu memberikan kucuran kredit kepada petani kelapa sawit yang waktu itu masih kesulitan. Namun, sekarang industri kelapa sawit telah berkembang pesat.

"Dulu memang kesulitan kredit. Namun sekarang produsen kelapa sawit sudah mudah mendapatkan kredit dari perbankan, sehingga kami tidak perlu lagi kredit dari Bank dunia," ujarnya.

Jika nanti diberikan pinjaman, menurut Mahendra, kucuran kredit tersebut akan disalurkan kepada petani sawit kecil yang jumlahnya mencapai 45 persen. "Kondisi industri sawit tidak seperti dulu lagi. Sekarang pengusaha sawit besar-besar, bisa cari kredit sendiri," katanya.

Laporan: Iwan Kurniawan



• VIVAnews   |   Share :  
Rating