VIVAnews - Meski sedikit terlambat, PT Krakatau Steel sedang melaksanakan program revitalisasi senilai US$220 atau setara Rp1,98 triliun.
Pada 2010, Krakatau melaksanakan berbagai langkah strategis seperti penyesuaian teknologi untuk mengejar ketertinggalan sebagai dampak krisis ekonomi 1997-1998.
Direktur Utama Krakatau Steel, Fazwar Bujang, mengakui perseroan sedikit terlambat untuk melakukan revitalisasi akibat krisis ekonomi 1998 yang terjadi lagi pada 2008. Revitalisasi yang dilakukan Krakatau bersifat masif dari hulu hingga hilir.
"Revitalisasi bersama ini membuat posisi Krakatau Steel menjadi kompetitif di Asean," kata Fazwar dalam diskusi bertajuk Sinergi BUMN Strategis di Jakarta, Selasa 24 Agustus 2010.
Untuk biaya revitalisasi sebesar US$220 juta itu, menurut dia, Krakatau telah menyiapkan pendanaannya. Apalagi, program revitalisasi tersebut didukung perbankan serta negara-negara di Eropa seperti Jerman, Austria, dan Italia.
Program revitalisasi tahap pertama diharapkan selesai pada April 2011 serta kedua pada 2012.
Menurut Fazwar, untuk revitalisasi Krakatau di sektor hilir telah berjalan lebih dahulu dan akan selesai pada Desember 2010.
Krakatau akan meningkatkan kapasitas produksi dari dua juta ton per tahun menjadi 2,5 juta ton per tahun. Revitalisasi sistem automation dan control akan menghasilkan produk lebih bagus dengan nilai tambah yang tinggi.
Sementara itu, perseroan juga akan membangun blast furnace. Dana yang dibutuhkan mencapai US$350-360 juta.
Fazwar juga menjelaskan, untuk menekan pemakaian gas pada produksi besi (iron making), Krakatau memiliki program zero reformer yang menurunkan pemakaian gas yang signifikan. Dengan tekanan gas yang rendah, maka dapat dihasilkan produk lebih bagus.
Terkait upaya itu, perseroan memperoleh dukungan pendanaan dari export credit agency dari Italia.
Sedangkan untuk produksi baja (steel making), Krakatau Steel telah melakukan beberapa modernisasi. Modernisasi tersebut untuk menekankan pemakaian listrik.
"Karena keterbatasan pasokan gas dan listrik, kami menyelesaikan proses tender untuk new iron making, yang memungkinkan untuk membangun blasting baru," tuturnya.
Produk new iron making bukan lagi besi spons yang dingin tetapi sudah berupa besi cair dengan karbon tinggi. "Kami masukkan ke dapur listrik sehingga pemakaian listrik turun drastis,” ujarnya.
Sedangkan untuk pabrik kerja sama Krakatau-Pohang Iron and Steel Company (Posco), Korea, pada September 2010 sudah akan terbentuk joint venture committee. Pabrik KS-Posco nantinya akan menghasilkan produk pelat tebal dan lebar yang selama ini impor.
"Dengan upaya ini, KS akan menjadi pabrik baja kuat dan besar di Asean. Target pada 2014 menjadi 4,2 juta ton ditambah pabrik Posco 1,5 juta ton," ujarnya. (hs)
Laporan: Iwan Kurniawan