VIVAnews - Dua fraksi dalam rapat paripurna ketiga Dewan Perwakilan Rakyat, Selasa ini 24 Agustus 2010, menilai pemerintah tidak jujur soal target produksi minyak siap jual (lifting) yang dipatok pada RAPBN 2011. Target 970 ribu barel per hari ini dianggap tidak realistis sehingga perlu dinaikkan.
"Lifting itu (targetnya) tidak baik karena produksi blok Cepu sudah meningkat, dan investor sektor migas yang digambarkan pemerintah terus membaik," kata Perwakilan Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Machmud Yunus di sidang paripurna.
Untuk itu, lifting minyak dan gas yang harusnya membaik. Jangan hanya naik 10 ribu barel dibanding target tahun ini yang ditargetkan 960 ribu barel per hari. "Harusnya membaik, tapi kenyataannya produksi migas masih rendah," katanya.
Dengan alasan yang sama, Fraksi PDIP mendesak pemerintah menaikkan target lifting minyak hingga 1 juta barel per hari pada 2011. Desakan ini disampaikan anggota PDIP Utut Adiyanto dalam penyampaian pandangan fraksi di sidang paripurna. Alasannya kata Utut, karena target lifting minyak saat ini sangat rendah.
"Kami, PDIP, mendesak pemerintah meningkatkan target 1 juta barel per hari melalui optimalisasi sumur baru, peningkatan teknologi, peningkatan produksi dan sumber daya manusia untuk meningkatkan penerimaan negara dari migas," katanya.
Target harga minyak sebesar US$80 per barel dalam RAPBN 2011 dan pertumbuhan ekonomi sebesar 6,3 persen, menurut PDI Perjuangan, pemerintah hanya mencari nilai aman.
"Sekarang saja sudah 5,9 persen sehingga pertumbuhan ekonomi itu tidak mencerminkan pertumbuhan ekonomi yang berkeadilan sosial karena pengangguran dan kemiskinan masih terus meningkat. Pemerintah tidak kerja keras," katanya.
PDI Perjuangan juga meminta pemerintah agar menaikkan rasio pajak RABN 2011 dari 12 persen menjadi 12,5 persen. (hs)