VIVAnews - Bank Indonesia (BI) mengkhawatirkan pemulihan ekonomi di Amerika Serikat (AS) yang agak melambat dari perkiraan. Lambatnya perbaikan ekonomi itu berpengaruh terhadap bursa saham regional.
Menurut Deputi Gubernur BI, Hartadi A Sarwono, meski ada beberapa indikator positif pada ekonomi Amerika, secara keseluruhan membawa efek negatif seperti turunnya harga saham. Hal itu berdampak pada seluruh bursa saham regional.
Upaya pemulihan ekonomi AS yang diperkirakan melambat itu di antaranya terkait program stimulus dari Bank Sentral AS (The Fed) yang tidak sesuai harapan pelaku pasar.
"Nah, itu yang sebetulnya punya dampak regional pada kita," ujar Hartadi di kantor Menko Perekonomian, Jakarta, Rabu 11 Agustus 2010.
Hari ini, dia melanjutkan, nilai tukar rupiah melemah, meski dalam tren yang menguat. "Agak spesial hari ini. Melemah dibanding hari-hari sebelumnya" ujarnya.
Berdasarkan data transaksi di Bloomberg pukul 16.00 WIB, nilai tukar rupiah bercokol di posisi 8.974 per dolar AS dari transaksi sesi pertama yang berada di level 8.972 per dolar AS.
Sedangkan berdasarkan data kurs tengah BI, rupiah sore ini berakhir di posisi 8.966 per dolar AS. Pada perdagangan Selasa 10 Agustus 2010, mata uang lokal tersebut berakhir di level 8.953 per dolar AS.
Sementara itu, indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada penutupan transaksi hari ini melemah 21,84 poin atau 0,72 persen ke level 3.035,32. (hs)