UI: Mahal Mana, Pindah Ibukota atau Bertahan

"Apa iya harus terus (bertahan di Jakarta), 10-20 tahun lagi mau jadi apa?"

Senin, 9 Agustus 2010, 12:32 WIB
Arinto Tri Wibowo, Agus Dwi Darmawan
Monas (VIVAnews/Nurcholis Anhari Lubis)

VIVAnews - Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Firmanzah memahami biaya yang dibutuhkan untuk perpindahan Ibukota Republik Indonesia dari Jakarta akan sangat mahal.

Namun demikian, biaya itu secara kalkulasi diperkirakan sama dibandingkan tingkat kerugian banyak pihak bila Ibukota tetap berada di Jakarta.
 
"Kalau pindah, biaya yang dikeluarkan itu bisa setara dengan kerugian yang diterima kalau tetap di Jakarta," kata Firmanzah di Hotel Borobudur, Jakarta, Senin 9 Agustus 2010.
 
Memindahkan Ibukota, menurut Firmanzah, memang bukan usaha yang mudah. "Bisa dibayangkan, apa saja yang harus dibangun. Mulai dari fasilitas gedung, kolam renang, berbagai jasa-jasa, dan lainnya," ujar dia.
 
Meski demikian, bila Ibukota RI tetap berada di Jakarta, dia melanjutkan, ada faktor positifnya dalam hubungan dengan kenangan masa lalu, ketika masih bernama Batavia dan Jayakarta. "Tapi, apa iya harus terus (bertahan di Jakarta), 10-20 tahun lagi mau jadi apa? Saya kira kita harus serius," katanya.
 
Dengan keberadaan teknologi saat ini, Firmanzah menambahkan, biaya perpindahan Ibukota bisa ditekan, yaitu hanya pada pemindahan fasilitas inti. Dia lalu mencontohkan kondisi serupa di Maroko. Beberapa hektare lahan dibangun menjadi komplek kepresidenan.

"Di situ ada komplek menteri dan fasilitas lain-lain," katanya. "Jadi nanti kalau rapat kabinet juga mudah."
 
Menurut Firmanzah, terkait pilihan kota mana yang menarik, saat ini dirinya juga belum mengetahui. Namun, wacana salah satu kota di Kalimantan bisa menjadi pilihan menarik, karena akan menjadi pusat pertumbuhan baru.
 
"Kami belum ada kajian, nanti kami pelajari dulu dengan tim," katanya.



• VIVAnews   |   Share :  
Rating
Komentar
rakyat
06/09/2010
ujung2 nya semua daerah mau jd ibukota para pemimpin memaksakan pindah biar dpt proyek besar.mental & moral pejabat kita emang udah anjlok.semuanya dibuat proyek tp tujuannya gak tercapai
Balas   • Laporkan
asbun
06/09/2010
Bisa-bisanya ngasih contoh : perlu kolam renang segala ..... terilhami atau ngeledek gedung DPR ?
Balas   • Laporkan
meriah
03/09/2010
hilangkan konsep sentralisasi...bertahan atau pun pindah memang solusi,,,terapkan konsep sebaran untuk pertumbuhan ekonomi, jangan semua terpusat di jakarta
Balas   • Laporkan
ale
20/08/2010
pindah lah secepatnya, sebelum jakarta benar-benar deadlock
Balas   • Laporkan
avon
14/08/2010
mahal krn yg ngitungnya cm ngtung buat jngka pndek aja,tkut rugi!pdhl ini kn mnykut hak org bnyak!pdhl ga rugi2 amat klo smua itu tproses dgn baik,ibarat org suskes kn smua dimulai dri bawah,,nh klo yg ini maunya lgs sukses,ya ga bsa lah,payah!
Balas   • Laporkan
shacti
13/08/2010
mendingan dibatasi aja kendaraan bermotornya, kaya di singapura. tahun 2000 ke bawah tidak boleh beredar di jakarta....persempit lapangan kerja di jakarta, lempar ke daerah2 pinggir....
Balas   • Laporkan
prihatin
13/08/2010
kenapa tidak dikembangkan kota2 lainnya agar semua kegiatan tidak terpusat di jakarta? Kalo cuma buat hindari masalah kota besar, maka kita akan selalu memindahkan ibukota kala ibu kota berkembang menjadi kota besar.
Balas   • Laporkan
dimas
10/08/2010
sangat setuju di pindah ke palang karaya sj krn datarannya mendukung dan pembangunannya tinggal melanjuti bukan dari nol(hemat anggaran).tggal dtmbah dsana fasilitas tuk bpk2 wakil biar setuju y,apalg ada proyek2 kan bnyak kontraktor bawaan wakil DPR nant
Balas   • Laporkan
abah sentot
10/08/2010
ibu kota di Nganjuk - jawa timur
Balas   • Laporkan
Shinta&Jojo
09/08/2010
Papua aja...
Balas   • Laporkan
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ