Bisnis

Apa Kata Mega Soal Redenominasi Rupiah

Kebijakan pemerintahan Indonesia soal redenominasi rupiah sangat tidak jelas.

Rabu, 4 Agustus 2010, 15:46 WIB
Amril Amarullah
Megawati Soekarnoputri (Situs resmi Megawati Institut)

VIVAnews - Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Megawati Seokarno Putri, mempertanyakan kebijakan yang akan dilakukan Bank Indonesia (BI) terkait rencana redenominasi rupiah atau penyederhanaan mata uang.

"Kalau seratus perak, jadi berapa," kata Megawati dalam sambutan politiknya di hadapan ribuan kader di Rakernas PDIP di Sentul International Convention Center, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Rabu 4 Agustus 2010.

Menurutnya, rencana BI soal redenominasi rupiah sangat tidak jelas. "Jadi, kalau uang seratus itu disederhanakan berapa hasilnya," tuturnya.

Mega berharap BI mengkaji ulang rencana itu karena masih banyak rakyat Indonesia yang ada di bawah garis kemiskinan. Sehingga untuk memiliki uang Rp 100 ribu saja sangat sulit. "Malahan jarang pegang uang Rp 100 ribu," tuturnya.

Sebelum melemparnya ke publik, kata Mega, seharusnya BI membicarakannya dulu dengan DPR. Agar seluruh parlemen DPR membuat budget yang sesuai dengan rakyat.

Kalau seperti ini, jelas Mega, negara terkesan mengeluarkan kebijakan  yang memaksakan diri dan egois. "Jika memaksakan kehendak, negara akan kacau," tegasnya.

Istilah redenominasi sebenarnya bukan sebuah hal asing dalam perekonomian. Denominasi mata uang berarti penyebutan satuan harga untuk mata uang suatu negara, baik dalam satuan koin ataupun kertas. Denominasi itu misalkan kita menyebut mata uang dengan besaran Rp 1.000, Rp 100.000, dan seterusnya.

Di sisi lain, istilah redenominasi berarti penyebutan kembali atau penyederhanaan dari satuan harga maupun nilai mata uang yang ada. Satuan Rp 1.000 disederhanakan menjadi Rp 1, misalnya.

Hal ini berlaku menyeluruh ke harga-harga barang dan jasa di negara tersebut. Sepotong roti yang tadinya seharga Rp 1.000, juga disederhanakan menjadi Rp 1. Dalam hal ini, tidak ada yang dirugikan dari sistem redenominasi. Tujuannya adalah juga sebagai efisiensi penghitungan dalam sistem pembayaran.

Tapi, penyebutan istilah redenominasi perlu dilakukan secara berhati-hati agar tidak menimbulkan gejolak dan keresahan. Langkah Bank Indonesia yang secara sigap menanggapi isu tersebut, dengan membuat banyak penjelasan di berbagai media, dinilai tepat.

Laporan: Ayatullah Humaeni | Bogor

• VIVAnews
Rating
Komentar
Dokter
06/12/2010
Mega...Mega....Sapa lah yang yang Egois. Mungkin Buk Mega mau Ngatain buat diri sendiri..Liat aja di PARPOL nya sapa yang Egois untuk Tetap Jadi Ketua...dan katanya mau ngilangin KKN, tapi kok keliatan Nepotismenya... SETUJU dengan Redenominasi
Balas   • Laporkan
Nurrochman
09/08/2010
ya memang heran ko, orang sehebat Ibu negara ko tanya 100 Rupiah jadi berapa? ya itung sendiri jadi berapa? heheheheheheh
Balas   • Laporkan
daan
09/08/2010
sejak thn 04 koar2 gak jelas. 6 tahun nganggur tu mbok ya dipake buat sekolah lagi aja harusnya..syukur2 bisa sampe S3.bagus lagi kalo ambil studi ilmu ekonomi..biar kalo ngomong soal ekonomi tuh agak mutu dikit..
Balas   • Laporkan
Marko
05/08/2010
Hanya masalah penyebutan saja, rededominasi atau tidak tetap saja susah cari makan. Sekilo beras tetap saja dicari seharian penuh. Rededominasi artinya nambah pekerjaan buat BI kan gitu aja. BTW; ini politisi gagal kok ngomongnya seperti anak TK ?
Balas   • Laporkan
dhany
05/08/2010
sbenarnya apa keuntungan dan kerugian dari redominasi rupiah
Balas   • Laporkan
Deri
05/08/2010
Redenominasi hanya bikin rumit aja,sekarang saja perekonomian sudah sulit ditambah lagi dengan sistem pembayaran yang dua macam dengan uang baru dan lama,malah bikin bingung ditingkat pasar tradisonal terutama bagi kami pedagang ditingkat pedesaan.
Balas   • Laporkan
Arizt
05/08/2010
belum saatnya redonimasi, sip untuk bu mega..
Balas   • Laporkan
batam1
04/08/2010
pemerintah kaji ulang baik buruknya program ini jangan asal jadi contohnya konversi mitan ke lpg 3 kg konsepnya bagus tapi kenyataan saat ini berpotensi jadi senjata pemusnah massal.
Balas   • Laporkan
kuncoro hadi
04/08/2010
aku sanagat setuju sekali dengan redenominasi
Balas   • Laporkan
yasser
04/08/2010
seperti ngerti aja bu.. bu.. lebai ah.. urus dapur aja gih..
Balas   • Laporkan
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ