VIVAnews - Bank Indonesia (BI) mengaku penguatan rupiah yang terjadi akhir-akhir ini disebabkan pelemahan dolar Amerika Serikat. Namun, BI melakukan intervensi agar rupiah tidak terlalu menguat.
"Untuk menjaga agar rupiah jangan terlalu cepat, BI telah masuk pasar untuk men-smooth out fluktuasi," ujar Deputi Gubernur BI Hartadi kepada VIVAnews di Jakarta, Jumat 30 Juli 2010.
Menurut Hartadi, penguatan tersebut juga dialami oleh negara regional di Asia. Sentimen positif dari berbagai rilis data ekonomi, khususnya di Eropa meningkatkan keyakinan pemulihan ekonomi. Imbas positif terbesar dirasakan di regional Asia yang mempunyai prospek baik.
"Data capital inflow (dana asing yang masuk) hari ini terus kami monitor hingga penutupan transaksi sore nanti," ujarnya.
Seperti diketahui, rupiah cenderung kuat bermain di bawah level 9.000 per dolar AS karena masih disertai sentimen positif seperti derasnya capital inflow ke pasar modal.
"Rupiah pagi tadi dibuka menguat di kisaran level 8.945-8.955 per dolar AS," kata Aruman, dealer valas PT Bank Mutiara Tbk kepada VIVAnews.