VIVAnews - Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) belum memikirkan untuk merombak direksi PT Pertamina (Persero), meski beberapa bulan terakhir didera sejumlah persoalan.
Menteri BUMN, Mustafa Abubakar, mengatakan masalah yang mendera Pertamina cukup banyak. Sebelum muncul kasus kerusakan pompa bahan bakar kendaraan bermotor (fuel pump) yang dituding karena kualitas bahan bakar minyak (BBM) jenis premium, Pertamina juga diminta bertanggungjawab terhadap ledakan gas yang berasal dari tabung elpiji ukuran 12 dan 3 kilogram.
"Pertamina kompleks sekali lingkupnya. Mereka harus mendistribusikan BBM bersubsidi ke seluruh Indonesia, selain itu melakukan konversi dengan segala dampaknya. Banyak tugas yang dibebankan Pertamina," ujar Mustafa di kantornya, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Jumat 23 Juli 2010.
Dia menegaskan, masalah yang mendera BUMN minyak tersebut harus dilihat secara objektif. "Masalah ini bukan karena masalah kinerja," kata dia.
Untuk itu, dirinya juga meminta masyarakat menilai secara objektif mengenai dugaan BBM jenis premium sebagai penyebab rusaknya pompa bahan bakar kendaraan bermotor itu.
"Jangan dulu mengatakan sesuatu yang belum jelas duduk persoalannya," tutur Mustafa.
Mustafa mengatakan, masyarakat boleh saja memberikan sinyalemen penyebab dugaan rusaknya fuel pump kendaraan bermotor akibat penggunaan BBM dari Pertamina. Namun, sinyalemen tersebut harusnya juga didukung dengan analisis yang dilakukan oleh ahli di bidangnya.
"Kita ambil sampel, dites secara ilmiah. Mudah-mudahan bukan itu penyebabnya (BBM premium)," kata dia. (hs)