VIVAnews - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan berfluktuasi pada transaksi akhir pekan ini. Rupiah masih berpeluang menguat pada transaksi siang, namun rawan tekanan pada akhir perdagangan hari ini.
"Rupiah diperkirakan bergerak pada kisaran 9.050-9.090 per dolar AS," kata praktisi pasar saham, Akhmad Makmun, kepada VIVAnews di Jakarta, Jumat, 23 Juli 2010.
Menurut dia, penguatan yen dan euro terhadap dolar AS semestinya dapat mendorong rupiah bergerak lebih kuat. "Dengan yen dan euro yang begitu kuat, seharusnya rupiah berada di bawah level 9.000 per dolar AS," ujarnya.
Namun, kenaikan tarif dasar listrik (TDL) yang berimbas pada peningkatan harga kebutuhan pangan mempengaruhi peluang penguatan rupiah, sehingga pergerakannya tertahan. "Karena (kenaikan harga) akan memicu kenaikan inflasi," ujarnya.
Meski demikian, dia melanjutkan, nilai tukar rupiah juga tidak akan bergerak di atas level 9.100 per dolar AS. "Transaksi rupiah akhir pekan ini juga tidak akan ramai," tuturnya.
Berdasarkan data kurs tengah di Bank Indonesia, rupiah pada transaksi Kamis 22 Juli 2010 berada di level 9.069 per dolar AS, atau melemah dibanding Rabu 21 Juli 2010 yang berada di posisi 9.052 per dolar AS. Sedangkan berdasarkan data Bloomberg kemarin, rupiah berada di level 9.050 per dolar AS. (umi)