VIVAnews - Greenpeace menuduh sejumlah perusahaan internasional terlibat dalam menghancurkan hutan Indonesia.
LSM lingkungan internasional tersebut menilai Walmart, Tesco, Carrefour dan perusahaan internasional lainnya telah membeli produk pulp dan kertas dari produsen Indonesia yang merusak hutan.
Dalam laporan terbaru, Greenpeace menyebutkan Asia Pulp & Paper (APP), produsen pulp dan kertas terbesar keempat di dunia yang dikendalikan oleh Sinar Mas, konglomerat Indonesia sebagai pihak tertuduh.
"Sinar Mas terus mengakuisisi dan menghancurkan hutan alam yang menjadi habitat harimau, serta membabat lahan gambut kaya karbon untuk pabrik pulp di Sumatera," ujar Greenpeace seperti ditulis Financial Times, 5 Juli 2010.
Greenpeace menuding APP tidak pernah serius menggunakan kayu pulp dari perkebunan eksklusif ... meskipun memberikan jaminan kepada pelanggan. Namun, APP justru mempertahankan ketergantungan pada hutan alam.
Greenpeace tidak menyebutkan dimana lokasi Sinar Mas melanggar hukum, tapi LSM ini percaya perusahaan ini telah mendapatkan lisensi dari pemerintah beroperasi di areal lahan yang semestinya dilindungi.
Masalah status lahan, menurut Greenpeace, menjadi biang konflik di Indonesia karena persoalan hukum yang rumit dan tumpang tindih, minimnya penegakan peraturan, serta korupsi di pemerintah.
Selain Tesco dan Carrefour, Greenpeace menyebutkan Kentucky Fried Chicken, Hewlett Packard, dan Auchan menggunakan produk dari APP. Laporan ini juga menyebutkan nama-nama lain, seperti grup retail WH Smith, Corporate Express asal Belanda yang dimiliki oleh Staples, serta PaperlinX, pedagang kertas Australia.
Greenpeace menyerukan kepada semua perusahaan itu berhenti membeli produk APP dan mencegah merek mereka dikotori oleh tudingan terlibat dalam kerusakan hutan.
David Shirer, juru bicara Paperlinx, berkata: "Jika ada bukti dari bahan ilegal yang dipakai pemasok kami, kami akan berhenti berdagang dengan pemasok."
Jurubicara Tesco mengatakan pihaknya tidak membeli produk dari APP di Inggris, baik secara langsung atau tidak langsung. "Kami berkomitmen membeli kayu dan produk kayu yang legal, dari bahan baku berkelanjutan. "
Seorang juru bicara dari Carrefour juga mengaku berkomitmen menggunakan produk dari bahan baku untuk pembangunan berkelanjutan, serta memutuskan untuk menghentikan pasokan APP di Indonesia untuk produk bermerek Carrefour pada musim panas ini. "Carrefour telah bertemu dengan APP untuk membahas soal ini," katanya.
Auchan menyebutkan APP bukanlah pemasok besar. Namun, mereka akan mempelajari kesimpulan laporan Greenpeace secara hati-hati untuk memutuskan tindakan apa yang harus diambil.
Sedangkan, sumber dari dari Walmart, KFC, HP, dan Staples menolak berkomentar.
Mengutip dokumen internal APP dan data pemerintah Indonesia, Greenpeace menuduh bahwa APP telah menghancurkan habitat harimau dan orang utan Sumatera, serta merusak hutan yang kaya karbon untuk memenuhi target ambisius Indonesia mengurangi emisi 26 persen dalam 10 tahun mendatang.
Aida Greenbury, Direktur APP menolak memberikan rincian tentang para pembelinya. Namun, ia mengatakan klaim bahwa aktivitas perusahaan telah membuat spesies terancam punah "sama sekali tidak benar".
APP menyatakan dua kali dalam laporan dan kepada pemegang saham bahwa akan manggunakan 100 persen kayu dari sumber bahan baku berkelanjutan, ditargetkan pada 2007 dan diubah 2009. Namun, perusahaan tak bisa menggapai target tersebut.
Greenbury mengatakan bahwa sejak 2008, sekitar 85 persen dari kayu APP telah datang dari perkebunan. Perusahaan juga akan mengurangi ketergantungan pada sumber-sumber non-berkelanjutan hingga 10 persen mulai tahun ini.
Bagaimana jawaban dari grup bisnis Sinar Mas Atas Tudingan Greenpeace, silakan klik di sini.