BPS Heran Rokok Belanja Terbesar si Miskin

"Faktanya mereka ngrokok meski gizi nol, dan mabok iya."

Kamis, 1 Juli 2010, 15:14 WIB
Heri Susanto, Agus Dwi Darmawan
DR. Rusman Heriawan (Kepala Badan Pusat Statistik) (Vivanews/Nurcholis Anhari Lubis)


VIVAnews - Merilis angka kemiskinan per Maret 2010 sebanyak 31,02 juta, Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan bahwa dominasi pengeluaran utama si miskin, 73,5 persen adalah untuk makan. Angka ini hanya berubah sedikit dibandingkan tahun lalu yang tercatat 73,6 persen.
 
Menurut Rusman, makan menjadi kebutuhan dasar yang dicari pada orang miskin. Setelah itu mereka baru mengalokasikan sebagian pendapatannya untuk pendidikan dan transportasi dan sisanya untuk kesehatan.
 
Secara rinci, Rusman memaparkan bahwa komoditi makanan yang dikonsumsi orang miskin itu adalah beras untuk lingkungan perkotaan dengan porsi 25,2 persen, sedang pedesaan mencapai 34,11 persen.

Meski miskin, kebanyakan mereka juga tercatat memenuhi kebutuhan untuk pengeluaran berupa rokok kretek filter sebesar 7,93 persen untuk perkotaan dan di pedesaan sebesar 5,9 persen.
 
"Meski merokok itu tidak ada gizi, tetap saja merokok ini kami catat karena turut menjadi aktivitas pengeluaran mereka," kata Rusman di Kantor BPS, Kamis 1 Juli 2010.
 
Padahal sudah banyak yang tahu bahwa gizi rokok adalah 'nol' untuk memenuhi kebutuhan kalori manusia sebesar 2100 kkal per hari. "Faktanya mereka ngrokok meski gizi nol, dan mabok iya," ujar Rusman mengungkapkan keheranan.
 
Selain beras diurutan pertama dalam pengeluaran si miskin dan rokok menempati urutan kedua, pengeluaran lainnya untuk mereka yang miskin yakni teralokasi dalam pembelian untuk telur ayam ras 3,42 persen (di perkotaan) dan 2,61 persen (di pedesaan), gula pasir 3,36 persen (di perkotaan) dan 4,34 persen (di pedesaan), mie instan 2,97 persen (di perkotaan) dan 2,51 persen (di pedesaan), tempe 2,24 persen (di perkotaan) dan 1,91 persen (di pedesaan), tahu 2,01 persen (di perkotaan) dan 1,55 persen (di pedesaan) bawang merah 1,36 persen (di perkotaan) dan 1,66 persen (di pedesaan) dan sebesar 1,23 untuk kopi di perkotaan.
 
Pengeluaran lain untuk perumahan yakni 8,43 persen untuk di kota dan 6,11 untuk di pedesaan. Pengeluaran listrik sebesar 3,30 persen di perkotaan dan sebesar 1,87 persen di pedesaan. Untuk angkutan sebesar 2,48 di perkotaan dan 1,19 persen dipedesaan. Untuk alokasi pengeluaran pendidikan sebesar 2,4 persen di perkotaan dan 1,16 di pedesaan.



• VIVAnews   |   Share :  
Rating
Komentar
Ramadhan Husein
06/09/2010
#der_rotten: Tugas BPS kan mencatat, klo ngasih penyuluhan tu udah bukan wewenang BPS lg. Wong ngasih komentar waktu wawancara aja ga boleh apalagi ngasih penyuluhan. Hal ini dilakukan untuk menjamin kualitas data yg tanpa intervensi.
Balas   • Laporkan
syardan Jalil
25/08/2010
dari analisa BPS nampaknya merokok turut memberi kontribusi seseorang terjebak dalam lingkaran kemiskinan kenapa negara kita masih saja memelihara industri rokok
Balas   • Laporkan
ansar
25/08/2010
merokok kebiasaan yang kurang baik tapi terpelihara di negeri ini, salah satu bukti betapa hebatnya produsen rokok mempromosikan produknya dan betapa sulitnya menghentikan ketergantungan/tingkat ketagihan terhadap rokok yang tak mengenal strata sosial
Balas   • Laporkan
M. ILYAS AHKAB
12/07/2010
Iya memang merokok itu berhubungan erat dengan tingkat pendidikan masyarakat.
Balas   • Laporkan
yalie
01/07/2010
"jangan heran pak kalo org miskin lbh suka merokok, org miskin bnyk yg pts asa, apalagi lht pejabt gaji nya gede2, kalo ngeroko kan cepet...., cepet msk rumah sakit.... he he....
Balas   • Laporkan
""Meski merokok itu tidak ada gizi, tetap saja merokok ini kami catat karena turut menjadi aktivitas pengeluaran mereka," kata Rusman" kenapa cuma dicatet aja ga sekalian dikasi penyuluhan aja pak? biar komplit gituh..
Balas   • Laporkan
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ