Daihatsu Naikkan Produksi Jadi 280.000 Unit

Kuartal I, Astra mampu meningkatkan penjualan mobil sebesar 71% menjadi 99 ribu unit.

Rabu, 26 Mei 2010, 16:17 WIB
Arinto Tri Wibowo, Purborini
Daihatsu (daihatsu.com)

VIVAnews - PT Astra Internasional Tbk tidak akan menurunkan target penjualan kendaraan bermotor terkait rencana pemerintah menaikkan pajak progresif dan registrasi kendaraan.

"Kami cermati dulu, mudah-mudahan masih ada pihak yang meyakinkan bahwa itu tidak diperlukan," kata Direktur Utama Astra International Prijono Sugiharto  usai rapat umum pemegang saham (RUPS) di Hotel Four Seasons, Jakarta, Rabu 26 Mei 2010.

Tahun ini, menurut Prijono, divisi otomotif akan menambah kapasitas produksinya. PT Astra Daihatsu Motor akan menambah kapasitas produksi dari 211.000 unit menjadi 280.000 unit per tahun. Sementara itu, perluasan pabrik mulai dilakukan pada awal tahun depan.

Pada kuartal I-2010, Astra mampu meningkatkan penjualan mobil sebesar 71 persen menjadi 99 ribu unit.

Direktur Utama PT Toyota Astra Motor Jhonny Dharmawan mengatakan, penjualan kendaraan roda empat nasional selama April mencapai 60 ribu unit. "Total dari Januari sampai April, penjualan meningkat menjadi 232 ribu unit," kata dia.

Selama April, sebanyak 55 persen atau 36.090 unit berasal dari penjualan Astra International, yakni mobil merek Toyota, Daihatsu, Isuzu, Nissan Diesel, dan Peugeot.

Jhonny optimistis, penjualan mobil hingga akhir tahun bisa mencapai 660 ribu unit, jika kenaikan pajak dan krisis Yunani tidak berpengaruh ke Indonesia.

"Seharusnya tanpa ada hambatan itu, penjualan bisa melampaui 2008 sebanyak 609 ribu unit," kata dia.

Sementara itu, untuk penjualan kendaraan roda dua, Prijono juga meyakini tahun ini akan mencetak rekor baru sebanyak 6,5 juta unit.

Namun, jika pemerintah tetap menjalankan rencana untuk menaikkan pajak progresif dan registrasi kendaraan, pasar kendaraan bermotor akan turun hingga 30 persen.

Angka ini diperoleh dengan membandingkan kondisi penjualan ketika pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM). "Tahun 2005, market drop 20 persen," kata dia.

Dia juga membandingkan dengan kondisi penjualan di Vietnam ketika pemerintah menaikkan pajak kepemilikan kendaraan. "Saat itu, market drop 28 persen," ujar Jhonny.

Prijono menambahkan, hingga saat ini perseroan masih tetap menganggarkan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp 7,5 -8 triliun.

"Capex kebanyakan diserap anak perusahaan seperti Astra Agro Lestari dan United Tractors," kata Prijono. (umi)

arinto.wibowo@vivanews.com



• VIVAnews   |   Share :  
Rating
Komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ