Bisnis

Kenapa Subsidi Akan Dicabut Saat SBY Berakhir

Gara-gara kenaikan harga minyak mentah dunia, subsidi BBM memang melonjak drastis.

Senin, 22 Maret 2010, 13:53 WIB
Heri Susanto, Agus Dwi Darmawan
BBM: Pertamina (VIVAnews/Nurcholis Anhari Lubis)

VIVAnews - Pemerintah berniat melepas harga bahan bakar minyak (BBM) pada 2014-2015, saat atau setelah pemerintah berganti. Pada saat itu, pemerintah tak lagi memberikan subsidi pada bensin, solar dan minyak tanah.

"Pada 2014-2015 harga BBM, rencananya mencapai harga keekonomian," ujar Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Darwin Zahedy Saleh di Kementerian Energi di Jakarta, Senin, 22 Maret 2010.

Darwin tak menyebutkan secara khusus mengapa pemerintah memilih masa-masa berakhirnya pemerintah untuk menghentikan subsidi BBM yang sangat strategis ini.

Sekedar informasi, pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono juga pernah menaikkan harga BBM secara signifikan pada Juli 2008, setahun menjelang pemerintah berakhir. Namun, sebelum pemilu, SBY kembali menurunkan harga BBM hingga tiga kali meskipun jumlah penurunannya sedikit.

Menurut Darwin, tujuan dari penerapan harga keekonomian tersebut agar masyarakat lebih berhemat. Saat ini harga BBM di Indonesia tetap, meskipun harga internasional mengalami peningkatan.

Sejak 15 Januari 2009, harga bensin bersubsidi sebesar Rp 4.500 per liter. Harga solar juga sama, Rp 4.500 per liter. Sedangkan harga minyak tanah Rp 2.500 per liter. Padahal, harga minyak mentah dunia terus mengalami kenaikan.

Gara-gara kenaikan harga minyak mentah dunia, subsidi BBM memang melonjak drastis. Tahun ini saja, anggaran subsidi BBM meningkat dari Rp 68 triliun menjadi Rp 89 triliun. Begitupun dengan subsidi listrik dari Rp 37,8 triliun menjadi Rp 54,5 triliun.

Selain harga BBM yang akan diterapkan menuju harga keekonomian adalah tarif dasar listrik (TDL). Dengan mekanisme ini subsidi harga akan diubah menjadi subsidi langsung berupa bantuan langsung tunai (BLT).

"Jadi pada waktunya, kita mengubah subsidi pada harga, menjadi subsidi pada golongan yang tidak mampu," kata Darwin.

Namun, Menteri Perekonomian Hatta Rajasa membela koleganya. Menurut dia, tidak ada istilah pencabutan subsidi pada 2015. Menurut Hatta, yang dimaksudkan oleh Menteri Energi adalah bagaimana pemerintah akan menerapkan sistem subsidi sesuai target atau subsidi itu hanya diterima oleh yang berhak.

Hatta menjelaskan pengalihan itu misalnya bagaimana mengubah sistem subsidi harga yang saat ini diterapkan. "Misal pemberian subsidi listrik, 50 persen itu sekarang diterima pada yang tidak berhak, kami tidak mau yang seperti itu," katanya.

Sehingga yang dimaksud pencabutan adalah mengubah roadmap pemberian subsidi. Hatta sendiri tetap menjamin bahwa negara akan tetap melindungi kelompok-kelompok tertentu sesuai amanat undang-undang.

Dicontohkan pilot proyek pertama pengalihan subsidi ini misal pada subsidi pupuk. Kebijakan ini telah sesuai dengan Inpres I tahun 2010 tentang aplikasi pemberian pupuk bersubsidi.

"Tujuannya agar kita bisa meyakinkan kelompok itu (masyarakat tak mampu) benar-benar menerima subsidi," katanya.

• VIVAnews
Rating
Komentar
b10ta
04/11/2010
kenapa mesti SBY turun jadi presiden baru dicabut subsidi ?? apa bedanya klu sekarang ??? kan lebih baik !!! dananya buat subsidi di gunakan buat bantu rakyat yang kena Bencana dan memperbaiki infrastruktur yang rusak,.dari pada dana subsidi dikorupsi ??
Balas   • Laporkan
reformis
26/05/2010
sial emang presidennya, mending w dulu golput, masuk neraka aja pemerintah yg korup
Balas   • Laporkan
apl_ukka
26/05/2010
pemerintah emang pintar, pintar melaratin rakyat sendiri
Balas   • Laporkan
munawar
26/05/2010
yah napa subsidi BBM dihapus ya???tar jadinya malah banyak orang miskin, kalo gitu caranya pajak mobil mewah,pajak orang kaya dinaikkan tinggi, rumah-rumah mewah dipajak tinggi, gaji PNS kantor Pajak dan Gaji Karyawan Pertamina dibayar UMR ato sedikit dia
Balas   • Laporkan
retyawanto
26/05/2010
Tanah, air dan seisinya utk kemakmuran asing dan komisinya untuk kepentingan pejabat pemerintahan Indonesia (inilah amendment UUD yg tidak ditulis). Dan nantinya rakyat Indonesia ibarat ayam mati di lumbung padi....
Balas   • Laporkan
pleyo
26/05/2010
waduh, kesengsaraan apa lagi buat rakyat republik ini? udah mikiran biaya hidup ribed, biaya anak sekolah bikin kepala makin sumeng. eh mBok kalo cari solusi yang enak gitu lho.. lu lu padean gaji gede, senggolan gede, mikir dong ...
Balas   • Laporkan
dodosamia
23/04/2010
sabar-2, jangan emosi. subsidi atau tidak subsidi bukan masalah. masalahnya, kenapa kita harus bayar mahal untuk semua barang yang diberikan Allah? lantas uangnya untuk apa?
Balas   • Laporkan
berlian
23/03/2010
sejujurnya minyak tanah yang kadang masih sangat kami perukan sampai kepada kami dengan harga Rp 7.500 - Rp 8.000 /liter. jauh banget dari subsidi. maka, jika seandainya quota minyak tanah dilepas dengan sistem Pom seharga 6000 - 7000 masih sangat biasa b
Balas   • Laporkan
jasmine
23/03/2010
ya SBY......... dah jelas kok gak usah dikomentarin lagi bobroknya malezzz, menunggu hancurnya aja Mohon dipercepat ya Tuhan
Balas   • Laporkan
qiply
23/03/2010
yach...ntar bensin naik n gaji g naik2 trus anak bini makan apa..donk katanya mau mengentaskan kemiskinan eh malah bikin org miskin + miskin n melarat ...
Balas   • Laporkan
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atau 
  
webtorial