VIVAnews - Dua investor keramik lokal masih berkomitmen untuk menanamkan dana masing-masing US$ 25 juta dan US$ 20 juta, meski Indonesia masih dilanda krisis gas.
Kedua investor tersebut akan membangun pabrik keramik di Surabaya, Jawa Timur.
Ketua Umum Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) Achmad Widjaya mengatakan, saat ini, kedua perusahaan tersebut dalam proses konstruksi pabrik.
"Akan dibangun dua pabrik keramik baru di Surabaya. Satu perusahaan sanitary dan satu lagi keramik ubin," kata Achmad di Jakarta, Jumat 19 Maret 2010.
Pabrik keramik jenis sanitary ditargetkan berproduksi perdana pada April 2010 dengan kapasitas sekitar 25 ribu keping per bulan. Untuk itu, digelontorkan investasi sebesar US$ 20 juta.
Sementara itu, pabrik keramik ubin akan mempunyai kapasitas produksi sekitar 30 ribu meter persegi dengan tiga lini. Investasinya sekitar US$ 25 juta.
Dia menjelaskan, dengan investasi baru tersebut, kapasitas produksi keramik nasional mendapat tambahan sekitar 12 juta meter persegi per tahun.
Saat ini, menurut dia, kapasitas produksi keramik Indonesia mencapai 330 juta meter persegi per tahun.
Pembangunan pabrik di Surabaya, Achmad menambahkan, untuk memenuhi lonjakan permintaan di wilayah timur Indonesia. Meski porsi konsumsi masih kecil yakni 20 persen, pertumbuhan permintaan di wilayah timur Indonesia terus meningkat.
Berbeda dengan pertumbuhan investasi, Achmad mengatakan, ekspor keramik pada 2010 akan stagnan, termasuk pada kuartal pertama.
"Pasar ekspor di seluruh dunia, saat ini, tidak ada yang bisa diharapkan. Pembeli belum berani order untuk enam bulan ke depan. Jadi, pembelian hanya jangka pendek, setiap tiga bulan," ujar Achmad.
Ekspor keramik pada 2009, dia melanjutkan, naik sekitar 5-6 persen dibanding tahun lalu.
arinto.wibowo@vivanews.com