VIVAnews - Sinyal hijau kepemilikan properti bagi asing diperkirakan membuat proyek prestisius Lippo Group bakal kebanjiran pembeli asing.
Direktur Penjualan The St Moritz Penthouses & Residences Budhi S Ghozali mengakui, pihaknya banyak didatangi calon-calon pembeli dari negara tetangga. "Para pembeli dari Brunei Darussalam berdatangan, karena ketentuan asing dibolehkan miliki properti di Indonesia," ujar Budhi di
sela-sela jumpa pers di PX Pavillion CBD Jakarta Barat, Kamis, 18 Maret 2010.
Selain Brunei Darussalam, dia menambahkan, calon pembeli dari Singapura juga melakukan hal serupa.
Budhi mengaku kebijakan tersebut, harus dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk menjaring konsumen global. "Karena proyek-proyek properti di Indonesia cukup bagus dan harga produknya relatif murah di Asean," katanya.
Apalagi, dia melanjutkan, kondisi perpolitikan di Thailand yang sedang memanas bisa menjadi peluang untuk memindahkan konsumen dari mancanegara ke Indonesia. "Sekarang ini adalah golden year untuk industri properti. Terlihat, dari daya beli masyarakat yang naik dan proyek yang dikeluarkan makin baik," ujar Budhi.
Bahkan, kata Budhi, ke depan, konsep properti superblok yang diinspirasikan oleh kota global (global city inspired) bakal menjadi tren yang diminati masyarakat, sehingga permintaan akan terus naik.
Untuk itu, Budhi mendukung penuh kebijakan pemerintah yang membolehkan asing memiliki properti lokal. Dengan demikian, menurutnya, pajak yang terkumpul dari pembelian oleh asing bisa disalurkan untuk mensubsidi rumah susun sederhana milik (rusunami) dan rumah susun sederhana sewa (rusunawa) yang tengah dikembangkan pemerintah.
"Pajak dari asing pasti cukup besar, bisa untuk mensubsidi kalangan menengah ke bawah," ujarnya.
Kalau pun para pengembang diminta untuk ikut membangun rusunami dan rusunawa untuk mengejar target pemerintah, menurut Budhi, tidak akan menjadi masalah asal pemerintah mendukung.
antique.putra@vivanews.com