VIVAnews - Rabu 23 Juli 2008. Dua dermawan terkaya dunia, Bill Gates dan Michael Bloomberg mengumumkan menghibahkan US$ 500 juta atau hampir Rp 5 triliun untuk membuat orang di seluruh dunia berhenti merokok. Mereka mengumumkan bersama di sebuah konferensi pers di TheTimesCenter di Midtown Manhattan, Amerika Serikat.
Michael Bloomberg adalah walikota New York City dan pendiri Bloomberg LP, raksasa software layanan bisnis, kantor berita, dan pusat data bisnis. Melalui Bloomberg filantropi ia telah menyumbang ratusan juta dolar untuk penelitian dan intervensi di bidang kesehatan.
Penerimanya, termasuk Universitas Johns Hopkins, AS Centers for Disease Control and Prevention (CDC), World Lung Foundation, dan Organisasi Kesehatan Dunia. Di bawah Bloomberg Initiative, hibah itu diberikan untuk proyek-proyek yang bertujuan mengurangi penggunaan tembakau.
Bill Gates telah meninggalkan jabatannya sebagai kepala eksekutif korporat Microsoft, perusahaan software raksasa yang ia dirikan bersama Paul Allen pada 1975. Langkah ini supaya Bill Gates konsentrasi pada kegiatan filantropi ini.
Dia dan istrinya, Melinda, mendirikan Bill dan Melinda Gates Foundation, yang sampai saat ini telah menghabiskan lebih dari US$ 3 miliar untuk memerangi AIDS dan malaria, sebagian besar di Afrika. Namun, sejak pengumuman Juli itu, Gates tak haya mengurusi AIDS dan malaria, tapi juga antirokok.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), tembakau akan membunuh orang 10 kali lebih banyak di abad ini dibandingkan pada abad yang lalu. Hingga satu miliar kematian. Kebanyakan dari mereka adalah penduduk negara-negara berkembang.
Bloomberg mengalirkan dana US$ 250 juta selama empat tahun sejak 2008. Dana ini merupakan dana tambahan yang telah diberikan Bloomberg pada 2006, sebesar US$ 125 juta.
Sedangkan Gates memberikan dana US$ 125 juta selama lima tahun, sejak 2008. Sumbangan ini akan memberikan dorongan besar yang akan dihabiskan untuk menekan penggunaan rokok di negara-negara berkembang itu.
Anggaran ini digunakan untuk kampanye antirokok rumah tangga miskin di Bangladesh yang menghabiskan 10 kali lipat lebih besar anggarannya untuk rokok dibandingkan untuk pendidikan. Hal yang sama juga dilakukan di Indonesia. Karena rumah tangga miskin di Indonesia membelanjakan 2,5 lebih banyak dari pendidikan, dan 3,5 kali lebih banyak daripada belanja kesehatan.
Anggaran juga dialokasikan untuk China yang memiliki 350 juta perokok atau sekitar sepertiga dari total dunia. Serta dialokasikan ke India yang kematian akibat rokok meningkat dari 700 ribu pada 2007 menjadi 930 ribu pada 2010. (Bill and Melinda Gates Foundation, New York Times, WHO, dan Wikipedia)
hadi.suprapto@vivanews.com