VIVAnews - PT Garuda Indonesia siap bersaing dengan perusahaan publik lain di lantai bursa melalui penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) pada kuartal III tahun ini.
Direktur Utama Garuda Indonesia Emirsyah Satar mengaku telah mendekati beberapa calon penjamin pelaksana emisi (underwriter), baik dari dalam maupun luar negeri.
"Kami belum bisa sampaikan siapa saja calon underwriter-nya, tapi ada lokal dan asing, karena kami juga distribusi ke luar negeri," kata Emirsyah saat pemaparan kinerja Garuda Indonesia 2009 di Hotel Nikko, Jakarta, Rabu 17 Maret 2010.
Garuda menargetkan dana sekitar US$ 300 juta dalam proses IPO tersebut. Meski mengambil porsi asing dalam kepemilikan sahamnya, Emir mengaku akan mencatatkan saham perusahaan (listing) di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Garuda akan membatasi kepemilikan saham publik hanya sebesar 40 persen. Kepemilikan saham itu termasuk oleh PT Angkasa Pura I, PT Angkasa Pura II, dan PT Pertamina yang mencapai 14 persen.
"Kami tidak akan sampai ke angka 49 persen. Kami akan buffer sampai sekitar 40 persen saja," ujarnya.
Melalui sebagian dana hasil IPO tersebut, Garuda akan menganggarkan untuk belanja modal (capital expenditure/capex), seperti mendatangkan 24 pesawat baru, pengembangan teknologi informasi, dan rute baru.
Tahun ini, Garuda menganggarkan dana sekitar US$ 100 juta untuk belanja modal. Sebagian besar dana capex diambil dari kas internal.
Sementara itu, Direktur Keuangan Garuda Indonesia Eddy Purwanto menambahkan, rencana IPO pada kuartal III tahun ini akan direalisasikan setelah restrukturisasi utang European Credit Agency (ECA) diselesaikan.
"Hampir semua restrukturisasi utang Garuda sudah selesai, kecuali dengan ECA yang masih dalam proses negosiasi dokumentasi," ujar dia.
Pada 2006, Garuda memiliki utang sebesar US$ 504 juta dari ECA. Saat ini, utang yang belum direstrukturisasi tinggal US$ 241,2 juta.
arinto.wibowo@vivanews.com