VIVAnews - Meski saat ini nilai kapitalisasi pasar Gudang Garam Tbk (GGRM) masih di bawah pesaingnya PT HM Sampoerna Tbk (HMSP), produk rokok kretek Gudang Garam masih cukup mendominasi pangsa pasar di dalam negeri.
Per 17 Maret 2010, Berdasarkan data PT Bursa Efek Indonesia (BEI), nilai kapitalisasi pasar Gudang Garam mencapai Rp 52,14 triliun, sedangkan HM Sampoerna Rp 59,17 triliun.
Namun, dibanding PT Bentoel Internasional Investama Tbk (RMBA), nilai kapitalisasi pasar Gudang Garam jauh melejit. Nilai kapitalisasi pasar Bentoel hanya Rp 2,89 triliun.
Industri rokok di dalam negeri seolah tak henti menjadi bahan perbincangan. Setelah kenaikan tarif cukai tembakau mulai 1 Januari 2010, kini industri dihadapkan pada fatwa haram rokok yang dikeluarkan Muhammadiyah.
Gudang Garam mengklaim sebagai produsen rokok kretek bermutu tinggi dan sempat memproduksi lebih dari 70 miliar batang rokok pada 2001.
Dilihat dari aset yang dimiliki Rp 24,07 triliun pada 2008, nilai penjualan, pembayaran pita cukai, dan pajak kepada pemerintah serta jumlah karyawan, Gudang Garam merupakan salah satu perusahaan rokok kretek terbesar di Indonesia.
Per 31 Desember 2008, kewajiban perseroan tercatat Rp 9,5 triliun dengan penjualan Rp 30,25 triliun dan laba bersih Rp 1,88 triliun.
Gudang Garam awalnya adalah PT Perusahaan Rokok Tjap Gudang Garam. Pada akhir 2008, perseroan mempekerjakan 38.362 ribu karyawan, atau berkurang dibanding 2007 yang mencapai 38.965 karyawan.
Selain menggeluti usaha rokok, per akhir 2008, Gudang Garam juga merambah bisnis di industri kertas melalui anak usahanya, PT Surya Pamenang yang sahamnya dimiliki 99,99 persen.
Selain itu, Gudang Garam menjalankan bisnis di bidang perdagangan melalui anak usaha lainnya, PT Surya Madistrindo yang dimiliki 99,99 persen. Bukan hanya itu, perseroan juga berupaya meraup pendapatan dari bisnis jasa hiburan melalui PT Graha Surya Media.
Perjuangan Gudang Garam hingga mencapai salah satu industri rokok besar dimulai sejak 1958.
Berdasarkan situs perseroan, pada 26 Juni 1958, Surya Wonowidjojo memulai usaha membuat rokok kretek dengan merek dagang Gudang Garam yang bercirikan industri rumah tangga dengan alat tradisional sederhana.
Pada saat itu jumlah tenaga kerja hanya sekitar 50 orang dan menempati lahan sewaan seluas 1.000 meter persegi yang berlokasi di Jalan Semampir II/1, Kediri, Jawa Timur.
Gudang Garam memulai produksi perdana berupa sigaret kretek klobot (SKL) dan sigaret kretek tangan (SKT), dengan hasil produksi hanya sekitar 50 juta batang pada 1958. Pada mulanya pemasaran hasil produksi hanya meliputi sekitar daerah Kediri.
Setelah menjalankan usaha selama 10 tahun, Gudang Garam menjadi semakin terkenal sehingga pendiri mempertimbangkan untuk memperluas usaha.
Pada 1969, perusahaan beralih status menjadi firma guna mengikuti perkembangan dunia usaha. Gudang Garam juga mendapat dukungan dari PT Bank Negara Indonesia Tbk (saat itu BNI 1946) untuk memenuhi kebutuhan modal kerja.
Selanjutnya pada 1971, status perusahaan berubah menjadi Perseroan Terbatas (PT) dan mendapatkan fasilitas penanaman modal dalam negeri (PMDN).
Dengan status tersebut, Perusahaan Rokok Tjap Gudang Garam semakin berkembang, baik dari kualitas produksi, manajemen maupun teknologi. Pada 1979, perseroan mulai memproduksi sigaret kretek mesin (SKM).
Untuk memperkuat struktur permodalan dan posisi keuangan perusahaan, pada 1990 Gudang Garam melakukan penawaran umum untuk menjual sebagian saham perusahaan kepada masyarakat melalui bursa efek.
arinto.wibowo@vivanews.com