Bisnis

Hatta Dorong Daerah Gandeng Australia

Pemerintah ingin daerah mengembangkan energi dan pangan.

Senin, 15 Maret 2010, 15:47 WIB
Hadi Suprapto, Syahid Latif
Hatta Rajasa (Abror Rizky/Biro Pers Istana)

VIVAnews - Pemerintah Indonesia bakal mendorong enam provinsi untuk menjalin kerja sama dengan investor Australia guna mengembangkan energi dan pangan. Keenam daerah itu Papua, Papua Barat, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Maluk, dan Bali.

"Australia ingin mengembangkan hubungan tidak hanya G to G (antarpemerintah), tapi juga people to people," kata Menko Perekonomian Hatta Rajasa di kantornya, Jalan Wahidin, Jakarta, Senin, 15 Maret 2010.

Menurut Hatta, dia segera menggelar rapat dengan sejumlah gubernur terkait mengenai potensi kerja sama diantara 6 daerah tersebut dengan Australia dalam kerangka kerja sama subregional.

Hatta mengharapkan kerja sama yang bakal dijalin kali ini tidak hanya bersifat teknis atau bantuan tapi juga mendorong kerja sama dalam bentuk investasi bidang pertanian dan energi.

"Kami harapkan demikian dan pembicaraan itu harus segera ditindaklanjuti  dan akan dimasukkan dalam agenda salah satu working group joint commission yang akan dilakukan Juni mendatang," kata Hatta seraya menambahkan Menteri Pertanian Suswono sudah mengadakan pembicaraan terkait peluang kerja sama di bidang pertanian.

Kendati membuka peluang kerja sama bidang Pertanian, Kementerian Koordinator Perekonian belum secara spesifik menawarkan investor Australia membenamkan dananya dalam proyek Food Estate di Merauke. Sebab, hingga saat ini pemerintah belum secara spesifik menetapkan pengembangan area dan baru sebatas penetapan areanya.

Selain itu, investor lokal di Merauke juga saat ini sudah cukup banyak. "Jika mau kerja sama silahkan tapi belum dalam konteks kawasan ekonomi khusus atau food estate," kata dia

Selama ini Indonesia telah menjalin sejumlah kerja sama dengan investor Australia. Data Badan Koordinasi Penanaman Modal menunjukkan Coca Cola dan Thiess berencana melakukan ekspansi usaha hingga di atas US$ 1 miliar.

hadi.suprapto@vivanews.com

• VIVAnews
Rating
Komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atau 
  
webtorial