VIVAnews - Pemerintah tengah menyoroti perilaku perusahaan di Indonesia yang mengesalkan. Mereka ini adalah perusahaan yang selalu minta insentif ke pemerintah dan tidak pernah bisa mandiri sejak berdiri di Indonesia.
Deputi Menko Perekonomian Bidang Industri dan Perdagangan Edy Putra Irawadi mengatakan daftar perusahaan yang 'Manja' ini cukup banyak. "Ada sekitar 800 perusahaan," kata Edy di Kantor Menko Perekonomian, Jumat 12 Maret 2010.
Data itu hanya data perkiraan yang berhasil dikumpulkan informasinya dimana mereka itu adalah perusahaan yang sebagian besarnya menguasai produk suatu barang mulai dari impor, distribusi sampai ke retail.
Karena alasan cakupan bisnis yang luas itu, kata dia, pemerintah kesal. "Masa sudah impor, distribusi dan retail dikuasai, tetap saja minta ini itu (insentif)," kata dia.
Pemerintah semakin tidak suka karena perusahaan-perusahaan itu sangat pandai berkilah dari realitas komitmen investasi di Indonesia. Pasalnya dari awal datang, tujuan perusahaan itu mulanya adalah menyampaikan keinginanya berinvestasi.
Tapi pada kenyataanya saat sudah mendirikan 2/3 mesin untuk produksi, perusahaan kemudian meminta ijin impor barang jadi dengan alasan tidak adanya kemampuan usaha diversifikasi lebih.
"Pemerintah membolehkan karena dengan harapan ketika semakin komersial kita mendapatkan imbal penerimaan yang sepadan," ujar Edy. Sayang pada kenyataanya sudah ada perusahaan yang lebih dari lima tahun pun masih tetap minta 'disusui'.
"Sudah lima tahun kok tetap minta gendong, mereka kan bukan bayi," kata dia.
Melihat kondisi itu, ujar Edy, pemerintah kedepan akan semakin menertibkan sistem administrasi dan pemberian insentif. Salah satunya dalam rencana kenaikan tarif dasar listrik (TDL), aturan pemberian insentif akan diberikan hanya pada industri tertentu.
"Nanti kita sedang minta mana saja yang terkena," kata Edy. Pemerintah pun mengkaji beberapa peraturan di Kementerian/Lembaga yang terlihat lemah tentang hal ini. Pemerintah pun akan semakin konsisten terhadap komitmen awal industri itu tentang minat datangnya ke Indonesia.
"Kami akan minta kalau dagang ya dagang, kalau mau produksi ya produksi, jangan datangnya mau produksi kenyataanya malah dagang," katanya.
Edy mengatakan 800 perusahaan itu tak hanya berasal dari luar. Ada juga sebagiannya yang berasal dari dalam negeri. Sektornya pun disebut ada di banyak hal mulai dari makanan dan minuman, kosmetik, termasuk elektronik.