VIVAnews - Meski lebih banyak berkecimpung di bidang makro dan moneter, salah satu calon deputi gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengaku hal itu sebagai kekuatan untuk melihat dengan cara pandang yang baru.
"Ini satu kekuatan bagi saya, untuk melihat sesuatu yang baru dari perbankan, tidak hanya BI," kata direktur Riset Ekonomi dan Kajian Moneter BI itu di Jakarta, Jumat 12 Maret 2010.
Menurut dia, meski banyak berkecimpung di bidang moneter, Perry mengetahui prinsip-prinsip dasar keuangan.
Dia pernah menjadi direktur eksekutif International Monetary Fund (IMF), sehingga cukup memahami keuangan.
Ketika ditanya mengenai bidang pengawasan yang disorot masyarakat, terutama karena kasus PT Bank Century Tbk, Perry mengatakan BI harus memberikan sinyal kuat bahwa lembaga itu telah melakukan perubahan.
BI telah mereformasi diri dan bisa menunjukkan bahwa kondisi perbankan baik. "Sinyal itu kami lakukan dan harus ditunjukkan bahwa kami telah melakukan sesuatu," ujarnya.
Lulusan Universitas Gadjah Mada jurusan akuntansi itu bekerja di Bank Indonesia sejak 1984. Sebelum berkarier di BI, dia pernah menjadi akuntan.
Perry juga pernah bekerja di BI sebagai perencana kredit, bidang moneter. Pendidikan S2 dan S3 diselesaikan di Universitas Iowa, Amerika Serikat dengan mengambil ilmu ekonomi moneter internasional.
Kembali ke BI, Perry bertugas di bidang analisis kebijakan pinjaman luar negeri, staf gubernur, neraca pembayaran, serta riset ekonomi dan kajian moneter.
arinto.wibowo@vivanews.com