Akhir Pekan, IHSG Rawan Tekanan

"Namun, pelaku pasar tetap mengacu pergerakan bursa global maupun regional."

Jum'at, 12 Maret 2010, 08:29 WIB
Antique
Pialang memantau pergerakan saham. (VIVAnews/Tri Saputro)

VIVAnews - Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia berpotensi mengalami tekanan jual investor. Akhir pekan yang biasanya dimanfaatkan aksi ambil untung (profit taking) dan pergerakan indeks yang masuk jenuh beli (overbought) akan menjadi pemicunya.

"Namun, pelaku pasar tetap mengacu pergerakan bursa global maupun regional," kata Gifar Indra Sakti, analis PT Sucorinvest Central Gani kepada VIVAnews di Jakarta, Kamis sore, 11 Maret 2010.

Dia memproyeksikan, indeks Jumat, 12 Maret 2010, berpotensi bergerak di kisaran level batas bawah (support) 2.663 dan batas atas (resistance) 2.688.
 
Pada transaksi Kamis, indeks kembali berakhir positif di posisi 2.676,52, naik tipis 6,30 poin (0,23 persen) dari perdagangan Rabu, 10 Maret 2010, yang menguat 13,05 poin atau 0,49 persen ke level 2.670,22.

Bursa Asia, saat IHSG berakhir juga bergerak positif. Indeks Hang Seng menguat 19,91 poin (0,09 persen) di posisi 21.228,20, Nikkei 225 naik 101,03 atau 0,96 persen menjadi 10.664,95, dan Straits Times terangkat 9,98 poin (0,35 persen) ke level 2.872,27.

Bursa Wall Street pada perdagangan Kamis sore waktu New York atau Jumat dini hari WIB pun kembali positif. Indeks harga saham Dow Jones terangkat 44,51 poin (0,42 persen) menjadi 10.611,84, indeks harga saham indikator Standard & Poor's 500 naik 4,63 poin atau 0,40 persen ke level 1.150,24, dan indeks harga saham teknologi Nasdaq menguat 9,51 poin (0,40 persen) di posisi 2.368,46.

Menurut Gifar, IHSG pada akhir pekan ini berpeluang bergerak mendatar (flat) dengan kecenderungan terkoreksi. Pasalnya, indeks sudah reli selama lima hari berturut-turut dan mencetak level tertinggi baru (new high).

Selain itu, dia mengakui, laporan keuangan tahun buku 2009 yang sudah banyak dirilis, baik yang audited maupun unaudited juga sudah tidak terlalu mempengaruhi laju IHSG.

"Tapi, sentimen mancanegara seperti perkembangan ekonomi AS dan bursa Wall Street maupun regional tetap menjadi acuan," tutur Gifar.

antique.putra@vivanews.com



• VIVAnews   |   Share :  
Rating
Komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ