Batas Aman Pertumbuhan Industri 8%

Pertumbuhan industri manufaktur yang terlalu tinggi dapat mengganggu kestabilan ekonomi.

Kamis, 11 Maret 2010, 19:26 WIB
Arinto Tri Wibowo, Elly Setyo Rini
ilustrasi industri (Adri Prastowo)

VIVAnews - Pertumbuhan industri diharapkan tidak melebihi delapan persen. Pertumbuhan industri manufaktur yang terlalu tinggi justru dapat mengganggu kestabilan ekonomi.

Direktur Jenderal Industri Agro dan Kimia Kementerian Perindustrian Benny Wachyudi mengatakan, ketidakstabilan ekonomi akibat pertumbuhan industri yang terlalu tinggi berbanding lurus dengan kenaikan impor bahan baku dan peralatan dalam jumlah besar.

"Pemerintah mematok pertumbuhan industri hanya 6-7 persen per tahun,'' kata Benny saat membuka rapat umum anggota (RUA) Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) di Jakarta, Kamis 11 Maret 2010.

Benny menjelaskan, batas teratas pertumbuhan industri sekitar delapan persen. Lebih dari itu, cadangan devisa Indonesia akan negatif atau terjadi overheated economy.

Batas angka aman pertumbuhan tersebut, menurut dia, berbeda dibandingkan negara lain.

Benny mencontohkan China yang mampu tumbuh hingga 10 persen, karena industri didominasi sektor hulu, sehingga mampu mengekspor barang modal ke berbagai negara. Hal tersebut mengakibatkan cadangan devisa China menggembung.

"Kalau kita, industri hulu belum kuat. Juga di pemasok bahan baku sektor pengolahan, membuat Indonesia mengimpor bahan baku atau penolong, barang modal, dan mesin pengolahan dalam jumlah besar," kata dia.

Dengan demikian, Benny mengatakan, saat ini kementeriannya tengah fokus pada penguatan industri hulu agar pertumbuhan industri pengolahan tertentu yang tinggi dapat tertopang.

"Kasus yang terjadi di industri makanan-minuman saat ini, pertumbuhan tinggi, namun tidak ditunjang dengan tersedianya bahan baku dan peralatan di dalam negeri. Karena itu harus direm," ujarnya.

Program penguatan industri belum berlangsung dengan lancar. "Bea masuk mesin saja nol persen, ya sulit,'' ujarnya.

Sementara itu, Ketua Umum GAPMMI Thomas Dharmawan mengatakan pertumbuhan industri yang tidak terkendali akan menyulitkan penyediaan bahan baku dan sumber daya manusia (SDM).

Saat ini, menurut dia, industri makanan dan minuman nasional masih tergantung pada bahan baku impor, misalnya gandum, susu, dan gula.

arinto.wibowo@vivanews.com



• VIVAnews   |   Share :  
Rating
Komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ