VIVAnews - Industri makanan dan minuman membutuhkan investasi sekitar Rp 40 triliun per tahun untuk mencapai pertumbuhan delapan persen.
Namun, menurut Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) Thomas Darmawan, angka pertumbuhan tersebut perlu mencermati pertumbuhan industri rokok yang terancam pajak cukai pada 2011.
"Angka delapan persen itu termasuk rokok. Sekarang apakah tembakau pertumbuhannya turun atau tidak tergantung 2011, ketika pemda
mengimplementasikan pajak cukai," kata Thomas di sela rapat umum anggota GAPMMI di Jakarta, Kamis 11 Maret 2010.
Thomas menilai, dengan tarif cukai baru, pertumbuhan tembakau diperkirakan di bawah delapan persen.
Dia meyakini, investasi sekitar Rp 40 triliun akan bisa tercapai tahun ini, karena beberapa investor Jepang mengantre masuk ke Indonesia untuk ekspansi.
"Kemarin saya ikut pertemuan BKPM dan ada tamu dari Jepang. Saya lihat data-datanya kebanyakan industri susu, es krim, yogurt, dan roti. Salah satunya, Nippon Sari Roti. Termasuk industri minuman dari Ajinomoto, Meiji, Morinaga, dan Nippon Indosari," ujarnya.
arinto.wibowo@vivanews.com