PPP: Tak Perlu Boikot Sri Mulyani

"Kalau sampai ada boikot, maka yang akan paling dirugikan adalah rakyat."

Kamis, 11 Maret 2010, 13:16 WIB
Umi Kalsum, Anggi Kusumadewi
Rapat Kerja CFTA Lima Menteri Ekonomi Dengan Komisi VI : Sri Mulyani (VIVAnews/Tri Saputro)

VIVAnews - Wacana pemboikotan terhadap Menteri Keuangan Sri Mulyani belakangan ini mendadak berhembus di DPR. Entah berawal dari mana, namun bergulir ide dari sejumlah anggota DPR untuk tidak mengundang nama-nama yang diduga bersalah dalam kasus Century, termasuk Sri Mulyani, dalam rapat-rapat dengan DPR. Menkeu sendiri merupakan mitra kerja Komisi XI DPR.

Posisi Menkeu dalam rapat-rapat di DPR, diusulkan untuk diwakilkan kepada Sekjen Kementerian Keuangan. Fraksi PDIP bahkan dikabarkan menyarankan Presiden SBY untuk menunjuk Menteri Keuangan ad interim (sementara), sampai muncul kepastian hukum terhadap Menkeu. Lebih lanjut, beredar pula kabar bahwa Panitia Anggaran DPR berencana untuk tidak menyetujui Rancangan APBN 2010 sebagai bagian dari aksi boikot terhadap Menkeu.

Menanggapi wacana aksi boikot tersebut, PPP menyatakan ketidaksetujuannya. “Tidak perlu memboikot Sri Mulyani. Kalau sampai ada boikot, maka yang akan paling dirugikan dan terkena dampaknya adalah masyarakat,” tandas Wasekjen PPP, Romahurmuziy, yang juga anggota pansus Century.

Pria yang akrab dipanggil Rommy itu mengingatkan, semua pihak harus berpegang pada azas praduga tak bersalah. Terlebih, saat ini kasus Century sudah dilimpahkan kepada proses hukum.

Rommy menyatakan, ia tidak tahu pasti siapa yang pertama kali melontarkan wacana boikot Sri Mulyani. Namun, tegasnya, PPP sama sekali tidak terpikir untuk melakukan itu. PPP juga tidak setuju apabila kasus Century dikaitkan dengan persoalan RAPBN 2010. “PPP malah melihat bahwa RAPBN 2010 itu pro rakyat,” ujar Rommy.

Ia mencontohkan, dalam RAPBN 2010, dicantumkan tambahan subsidi listrik agar Tarif dasar Listrik tidak naik gila-gilaan. Ada pula tambahan subsidi BBM, dengan pertimbangan bahwa harga minyak dunia saat ini kembali naik. “PPP tentu tidak ingin BBM naik,” kata Rommy.

Subsidi pupuk dan benih pun dimasukkan dalam RAPBN 2010. Dengan demikian, PPP menyimpulkan, penolakan DPR terhadap DPR akibat aksi boikot, hanya akan merugikan masyarakat.



• VIVAnews   |   Share :  
Rating
Komentar
diki
11/03/2010
SBY berkata : sini-sini Buk Sri tenang tenang saja.
Balas   • Laporkan
ella
11/03/2010
katanya DPR itu wakil RAKYAT tapi kok tdk pro rakyat??? yg ingin di bahas pemerintah/mentri keuangan dgn DPR itu RAPBN yg ada kaitannya untuk kepentingan rakyat...kok di Boikot ??? sebagai rakyat biasa saya merasa aneh kenapa DPR yg diurusin kok BC/ poli
Balas   • Laporkan
tanty dewi
11/03/2010
Kasus century mengapa dikaitkan dengan RAPBN? itu kan dua hal yang berbeda
Balas   • Laporkan
boikot = NORAK = INKONSTITUSIONAL = TUKANG OJEK
Balas   • Laporkan
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ