Atasi Krisis Gas, Proyek Metana Dipercepat

Pasokan gas dalam negeri berpotensi mendapatkan tambahan 500 juta kaki kubik per hari.

Kamis, 11 Maret 2010, 13:14 WIB
Hadi Suprapto, Ferial
Pipa gas (AP Photo/Sergei Chuzavkov)

VIVAnews - Pasokan gas dalam negeri  berpotensi mendapatkan tambahan 500 juta kaki kubik per hari (MMSCFD). Namun bukan saat ini, saat industri mengalami krisis gas. Gas baru akan dikirim pada 2014 mendatang.

Direktur Pembinaan Usaha Hulu Minyak dan Gas (Migas) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Edi Hermantoro mengatakan tambahan pasokan gas itu berasal dari produksi gas metana batu bara (CBM) di Kalimantan Timur.

"Kita mau mempercepat proyek-proyek CBM," kata dia di Jakarta, Kamis 11 Maret 2010.

Edi menjelaskan, percepatan produksi ini merupakan salah satu solusi mengatasi defisit gas jangka panjang. Sedangkan untuk jangka pendek, pemerintah berencana melakukan impor LNG.

Terkait krisis gas industri, menurut dia, kekurangan yang terjadi saat ini tidak terlalu banyak. "Itu kan kemarin sudah impor dari lapangan Singa milik Medco," kata dia.

Lebih lanjut dia mengatakan, pada 2014, negara-negara lain seperti Amerika, sudah bisa memenuhi pasokan gas sendiri. Karena itu, ekspor gas tidak sebesar ini.

Saat ini, produksi kilang-kilang gas di Indonesia dieskpor ke Jepang, China, dan sejumlah negara lain. Padahal, saat ini pertumbuhan konsumsi gas sangat tinggi. Akibatnya, pasokan gas lokal tidak tercukupi.

Atas kejadian ini, pemerintah memiliki dalih, kontrak ekspor gas ini merupakan kontrak lama. Sehingga tidak bisa diputus sembarangan. Anehnya, Lapangan Gas Dongi-Senoro milik Mitsubishi-Pertamina-Medco, yang baru akan berproduksi sudah dinyatakan bakal diekspor. Tak tanggung-tanggung, mereka akan ekpspor hingga 70 persen.

hadi.suprapto@vivanews.com



• VIVAnews   |   Share :  
Rating
Komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ