VIVAnews - Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia masih bertahan di teritori positif pada akhir transaksi, meski sempat terkena aksi tekanan jual investor.
Menurut analis PT Sucorinvest Central Gani Gifar Indra Sakti, penguatan saham-saham konsumer menjadi pemicu masih bertahannya IHSG di zona positif.
"Terlihat, saham-saham sektor konsumer banyak diburu pemodal," kata dia kepada VIVAnews di Jakarta, Rabu, 10 Maret 2010.
Analis PT Phillips Securities Indonesia M Habdi juga berpendapat, selain konsumer, penguatan saham industri semen turut mendukung terjadinya aksi beli investor yang lebih mengutamakan merealisasikan keuntungannya.
Keduanya pun sependapat, pergerakan positif bursa Wall Street dan regional Asia yang rata-rata bergerak menguat tetap menjadi acuan pelaku pasar dalam mengambil posisi di pasar saham.
Sedangkan pelemahan IHSG tadi, baik Gifar maupun Habdi juga mengaku terdorong aksi ambil untung (profit taking) investor semata.
IHSG pada penutupan transaksi hari ini, menguat 13,05 poin atau 0,49 persen ke level 2.670,22. Melanjutkan di akhir sesi I tadi, yang naik 15,04 poin (0,56 persen) di posisi 2.672,20.
Total nilai transaksi yang dibukukan mencapai Rp 3,60 triliun dan volume tercatat 8,31 juta lot, dengan frekuensi 91.269 kali. Sebanyak 131 saham menguat, 63 melemah, 80 ditutup stagnan, serta 219 saham tidak terjadi transaksi.
Pemodal asing melakukan pembelian saham Rp 1,01 triliun, sedangkan penjualan mencapai Rp 648,20 miliar.
Sedangkan bursa Asia, saat IHSG berakhir bergerak variatif. Indeks Hang Seng menguat 0,74 poin di posisi 21.208,29, Nikkei 225 turun 3,73 atau 0,04 persen menjadi 10.563,92, dan Straits Times terangkat 22,75 poin (0,80 persen) ke level 2.862,29.
Di Bursa Efek Indonesia, terlihat saham konsumer dan semen yang mengontribusi penguatan IHSG cukup besar. Sahamnya seperti PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) naik Rp 700 atau 5,88 persen ke level Rp 12.600, PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) menguat Rp 650 (4,90 persen) di posisi 13.900, dan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) terangkat Rp 300 atau 2,18 persen menjadi Rp 14.000.
Sementara itu, berdasarkan data transaksi perdagangan Bloomberg pukul 16.00 WIB, nilai tukar rupiah bercokol di posisi 9.175 per dolar AS dari transaksi siang tadi yang berada di level 9.170/US$.
Sedangkan berdasarkan data kurs transaksi BI, rupiah sore ini berakhir di posisi 9.188 per dolar AS. Pada perdagangan Selasa, 9 Maret 2010, mata uang lokal tersebut berakhir di kisaran level 9.198-9.210/US$.
antique.putra@vivanews.com