VIVAnews - Ekspor produk sawit Indonesia mencatat rekor pertumbuhan tertinggi sepanjang lima tahun terakhir.
Wakil Menteri Perdagangan Mahendra Siregar menjelaskan, selama 2005 hingga 2009, nilai ekspor produk sawit tumbuh rata-rata 34,6 persen per tahun.
"Kontribusi ekspor sawit terhadap ekspor nonmigas juga terus bertambah," kata Mahendra saat jumpa pers di kantornya, Jakarta, Rabu 10 Maret 2010.
Pada 2005, kontribusi ekspor sawit mencapai 5,7 persen, sebelum naik menjadi 10,6 persen pada 2009. Namun, nilai ekspor pada 2009 turun 16,2 persen dibanding tahun sebelumnya menjadi US$ 10,4 miliar.
Penurunan nilai ekspor dipicu melemahnya harga, meski volume ekspor meningkat. Harga minyak sawit (palm oil) dan minyak produk turunan sawit (palm kernel oil) di pasar internasional selama 2009 masing-masing turun 28 persen dan 38,6 persen.
Pasar utama produk sawit Indonesia yakni India, China, Belanda, dan Malaysia. Empat pasar ini menguasai sekitar 58,9 persen dari total ekspor produk sawit Indonesia.
Ekspor sawit masih mendominasi total ekspor Indonesia. Selain sawit, tekstil dan elektronik juga masuk dalam ekspor 10 produk utama.
Dominasi produk sawit pada ekspor nonmigas terlihat mulai 2008, menggeser posisi tekstil dan elektronik.
Namun, dilihat dari pertumbuhan ekspor, seluruh produk utama mengalami pelemahan. Bahkan beberapa produk berkontraksi, di antaranya kopi, udang, otomotif, alas kaki, produk hasil hutan, sawit, karet dan produk karet, serta tekstil.
Produk yang tetap tumbuh adalah kakao dan elektronik, masing-masing naik 10,9 persen dan 0,4 persen.
arinto.wibowo@vivanews.com