VIVAnews - Pemerintah menyerap lelang surat berharga syariah negara
(SBSN) dan sukuk negara Rp 999 miliar dari total penawaran yang masuk Rp 1,87 triliun.
Lelang itu dilakukan terhadap SBSN atau sukuk negara seri IFR0003 (reopening), IFR0005 (reopening), IFR0006 (new issue), dan IFR0007 (reopening) melalui sistem lelang Bank Indonesia (BI).
Untuk lelang SBSN seri IFR0003 (reopening), jumlah penawaran yang masuk Rp 1,02 triliun dengan imbal hasil (yield) terendah 8,5 persen dan tertinggi 9,37 persen.
Dirjen Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan Rahmat Waluyanto dalam siaran pers di Jakarta, Selasa 9 Maret 2010 menetapkan hasil lelang yang dimenangkan Rp 525 miliar dengan yield rata-rata tertimbang 8,52 persen dan tingkat imbalan 9,25 persen.
Surat utang itu jatuh tempo 15 September 2015 dengan settlement 11 Maret 2010. Pembayaran imbalan 15 Maret dan 15 September dengan bid to cover ratio 1,94.
Untuk lelang SBSN seri IFR0005 (reopening), jumlah penawaran yang masuk sebesar Rp 86 miliar dengan yield terendah 9,03 persen dan tertinggi 9,75 persen.
Hasil lelang yang dimenangkan Rp 14 miliar dengan yield rata-rata tertimbang 9,04 persen dan tingkat imbalan 9 persen. Surat utang itu jatuh tempo 15 Januari 2017 dengan settlement 11 Maret 2010.
Pembayaran imbalan 15 Januari dan 15 Juli dengan bid to cover ratio 6,14.
Sedangkan untuk seri IFR0006, jumlah penawaran yang masuk Rp 56 miliar dengan yield terendah 19,12 persen dan tertinggi 10,25 persen tidak ada yang dimenangkan.
Untuk lelang R0007 (reopening), jumlah penawaran yang masuk Rp 711 miliar dengan yield terendah 10,34 persen dan tertinggi 11 persen.
Hasil lelang yang dimenangkan Rp 460 miliar dengan yield rata-rata tertimbang 10,42 persen dan tingkat imbalan 10,25 persen. Surat utang itu jatuh tempo 15 Januari 2025, dengan settlement 11 Maret 2010.
Pembayaran imbalan 15 Januari dan 15 Juli dengan bid to cover ratio 1,55.
arinto.wibowo@vivanews.com