Investor Inggris Tak Surut Investasi di RI

Perkembangan investasi dari Inggris di sektor jasa keuangan menunjukkan tren naik.

Selasa, 9 Maret 2010, 17:01 WIB
Arinto Tri Wibowo, Elly Setyo Rini
ilustrasi investasi (Adri Prastowo)

VIVAnews - Investor Inggris menyatakan akan tetap berkomitmen untuk berinvestasi di Indonesia tahun ini.

Dalam pertemuan kenegaraan antara Direktur Eksekutif UK Trade and Investment Sir Andrew Cahn dan Wakil Menteri Perdagangan Mahendra Siregar terungkap bahwa Indonesia masih menjadi negara tujuan investasi bagi investor Inggris. Hal itu mengingat beberapa raksasa industri Inggris telah eksis di Indonesia.

"Tiga investor terbesar Inggris sudah ada di Indonesia. Kami akan investasi lebih banyak lagi. Dengan demikian akan lebih banyak menciptakan lapangan kerja dan memacu pertumbuhan ekonomi," kata Sir Andrew usai pertemuan tersebut di kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Selasa 9 Maret 2010.

Menurut dia, Inggris sebagai investor besar dan Indonesia sebagai eksportir besar merupakan perpaduan yang bagus untuk mendorong perdagangan dan investasi kedua negara.

Dia juga mengakui, perkembangan investasi dari Inggris ke Indonesia di sektor jasa keuangan menunjukkan tren yang meningkat. Beberapa bank besar asal Inggris, seperti Standard Chartered Bank, Barclays, dan HSBC, disebutnya telah ada di Indonesia dan akan terus secara kontinu meningkatkan performa.

Total investasi Inggris di Indonesia diperkirakan melebihi 20 juta poundsterling. Selain sektor perbankan, investor Inggris seperti Jardines, BP, Rio Tinto, Premier Oil, Shell, Unilever, Prudential, dan Astra Zeneca juga telah berkembang di Indonesia.

Sebaliknya, Sir Andrew mengharapkan Indonesia juga meningkatkan investasi di Inggris. "Investasi Indonesia di Inggris sangat kecil, saya harapkan investor Indonesia akan lebih agresif. Tapi di sisi lain perdagangan terus meningkat," ujarnya.

Menurut Sir Andrew, Indonesia merupakan negara yang berkembang pesat, tidak hanya dalam terminologi produk domestik bruto (GDP), tapi juga memiliki suara yang kuat di forum G20.

"Di saat negara-negara di dunia terpuruk oleh krisis global, Indonesia mampu mencapai tingkat pertumbuhan yang mengesankan. Indonesia memiliki potensi untuk menjadi salah satu negara yang paling penting di masa depan karena pertumbuhan ekonomi yang terbaik di Asia Tenggara," ujar Sir Andrew.

Wakil Menteri Perdagangan Mahendra Siregar menjelaskan pertemuan tersebut merupakan tindak lanjut dari pertemuan yang dilakukan Menteri Perdagangan, Investasi, dan Usaha Kecil Inggris Lord Davies of Abersorch dan Menteri Perdagangan RI Mari Elka Pangestu, pada November 2009.

"Kami akan terus meningkatkan hubungan bilateral kedua negara, baik perdagangan maupun investasi. Karena kami yakin peluang dan potensi perdagangan serta investasi kedua negara masih terbuka lebar," kata Mahendra.

Dalam pertemuan tersebut juga dibahas regulasi impor di Indonesia, terutama pada produk farmasi, turbo jet, turbo propellers, dan turbin gas serta alkohol.

Nilai ekspor Indonesia ke Inggris pada 2009 mencapai 1,6 miliar poundsterling dan nilai ekspor Inggris ke Indonesia senilai 350 juta poundsterling.

Ekspor terbesar Inggris ke Indonesia adalah ampas kayu dan kertas bekas, kendaraan untuk jalan raya, dan mesin khusus. Sementara itu, impor terbesar Inggris dari Indonesia adalah pakaian, batu bara, sepatu, dan furnitur.

Inggris merupakan negara investor yang memimpin di Indonesia dengan rencana investasi asing langsung mencapai US$ 119,9 juta pada Januari 2009.

arinto.wibowo@vivanews.com



• VIVAnews   |   Share :  
Rating
Komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ