Faisal: Ekonomi 2010 Bisa Tumbuh Tinggi 6,5%

Pemerintah memperkirakan ekonomi tahun ini akan tumbuh sekitar 5-5,5 persen.

Selasa, 9 Maret 2010, 14:22 WIB
Heri Susanto
Faisal Basri (Antara/ Andika Wahyu)

VIVAnews - Pengamat ekonomi Faisal Basri tampak lebih optimistis ketimbang pemerintah dalam memperkirakan target pertumbuhan ekonomi 2010. Dalam perkiraannya, ekonomi bisa tumbuh antara 5,4-6,5 persen.

"Kalau dilihat angka optimistisnya, ekonomi bisa tumbuh 6,5 persen. Ini tidak mengada-ada," ujar ekonom Faisal di acara seminar Indonesia Economic and Market Outlook 2010 yang digelar Bank Danamon di Jakarta, Selasa, 9 Maret 2010.

Angka ini memang jauh lebih tinggi ketimbang prediksi pemerintah, bank sentral dan ekonom lainnya. Pemerintah memperkirakan ekonomi tahun ini akan tumbuh sekitar 5-5,5 persen.

Untuk meyakinkan prediksinya, Faisal kemudian menunjukkan sejumlah sektor yang berpotensi tumbuh besar. Misalnya saja, sektor manufaktur. Pada triwulan keempat 2009, sektor manufaktur sudah tumbuh 4,2 persen, padahal pada triwulan sebelumnya relatif kecil yakni rata-rata 2,5 persen.

"Jika sektor manufaktur bisa tumbuh 5 persen, dampaknya sangat besar bagi pertumbuhan ekonomi," kata dia. Sebab, manufaktur merupakan sektor penyumbang besar bagi pertumbuhan yakni sebesar 26 persen. Menurut dia, dengan hanya fokus pada industri pangan, minuman dan rokok, serta otomotif, mesin dan peralatan, itu pengaruhnya sudah cukup besar bagi perekonomian.

Sumber pertumbuhan lain yang berpotensi memberikan dampak besar adalah perdagangan, hotel dan restoran. Alasannya, dia berkeyakinan perdagangan, termasuk ekspor-impor akan semakin meningkat seiring dengan pemulihan ekonomi. Kalau sektor ini bisa tumbuh 6,5 persen sepanjang 2010, akan memberikan sumbangan berarti bagi pertumbuhan ekonomi.

Namun, Faisal menekankan bisa juga pertumbuhan ekonomi tahun ini sekitar 6 persen. "Itu bisa dicapai tanpa pemerintah harus bekerja terlalu keras."



• VIVAnews   |   Share :  
Rating
Komentar
Tukang Sayur
20/03/2010
Setuju pak, asalkan para pengurus negara, baik Legislatif, eksekutif dan yudikatif memberi contoh yg baik, bisa melihat mana yg penting untuk rakyat mana yg tidak penting untuk rakyat, saat ini mereka masih memikirkan kepentingan pribadi dan kelompok deng
Balas   • Laporkan
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ