VIVAnews - Penguatan rupiah yang terjadi belakangan ini telah membuat bisnis eksportir melemah dengan terpangkasnya keuntungan. Rupiah terus menguat dan diperkirakan bisa menembus level Rp 9.200 per dolar.
Ketua Asosiasi Pertambangan Indonesia Priyo Pribadi Soemarno mengakui, para eksportir pertambangan harus rela keuntungannya terpangkas karena penguatan rupiah.
"Sebab, kami biaya produksi dengan rupiah tapi mendapatkan pembayaran dengan dolar. Jadi, kalau dollar melemah, sudah umum kalau keuntungan berkurang," kata Priyo ketika dihubungi wartawan di Jakarta, Senin, 8 Maret 2010.
Kendati demikian, Priyo tak menyebutkan berapa keuntungan eksportir yang terpangkas, tetapi tidak akan jauh dari fluktuasi rupiah terhadap dolar AS.
Eksportir beberapa produk pertambangan, kata dia, seperti nikel dan batu bara cukup terpukul dengan penguatan rupiah terhadap mata uang asing tersebut. "Inco dan Antam keuntungannya terpangkas banyak," ujar Priyo.
Sebagai pelaku bisnis, ujar Priyo, eksportir hanya bisa menyesuaikan diri dengan naik turunnya mata uang tersebut.
Dengan penguatan rupiah, katanya, eksportir pertambangan dituntut efisien dengan operasional produksinya, supaya kerugian tidak semakin membengkak.
"Kalau waktu kami jual, rupiah masih Rp 9.800, tapi waktu pembayaran yang biasanya sebulan atau dua bulan lagi rupiah tinggal Rp 8.000, kami tidak bisa apa-apa," ujarnya.
Menurut Priyo, efisiensi akhirnya harus ditempuh dengan mengurangi pembelian-pembelian atau mengurangi jam lembur (overtime). "Tapi tak akan sampai efisiensi karyawan," tuturnya.
antique.putra@vivanews.com