VIVAnews - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan Indonesia sampai saat ini penanaman modal langsung asing (FDI) posisinya masih di bawah negara-negara Eropa dan Asia, bahkan diantara negara Asean sekalipun.
Lebih memprihatinkan lagi menurut grafik data yang ditampilkan Sri Mulyani dalam kuliah umum di Fakultas Ekonomi UI, selama empat tahun usai krisis 1997/1998, capital account Indonesia lebih banyak yang keluar dibanding masuk.
"Jadi kalian (mahasiswa) jangan heran kalau kita belum menarik untuk mereka (investor)," kata Sri Mulyani saat memberikan kuliah umum 'Dinamika Perkembangan Ekonomi Indonesia' di Kampus Fakultas Ekonomi UI, Senin 8 Maret 2010.
"Indonesia (FDI) memang masih di bawah mereka (negara-negara bahkan seperti Afrika Utara)," kata dia.
Menurut Sri Mulyani, penanaman modal langsung asing (FDI) terhadap PDB mengalami pasang surut sejak 1996 menjelang krisis Asia Timur hingga pada saat ini telah terjadi 4 kali tekanan dan membuat peran FDI terhadap perekonomian relatif kecil.
Dalam perbandingannya, Indonesia berada pada posisi paling bawah dibandingkan negara-negara Timur Tengah, Afrika Utara, Amerika Latin, Asia atau Eropa.
Kepada mahasiswa Sri Mulyani memberi nasehat agar upaya mengukir prestasi terbaik jangan sampai meniru grafik seperti yang ditunjukkan.
"Hidup itu kalau cenderung flat, rugi. Saya sudah pesan kepada pegawai fresh graduate Kementerian Keuangan yang jumlahnya 1.200 orang. Mereka rekrutmen tanpa KKN karena ada pejabat Kemenkeu yang melamar juga tidak diterima, pesan saya jangan buang-buang waktu untuk merugi," kata dia.
Sri Mulyani kemudian membandingkan antara krisis 1997/1998 dengan krisis 2008. Perbedaan mencolok dari modal yang keluar pada 2008 sangat minimal hal itu menandakan bahwa pemerintah telah belajar dari pengalaman sebelumnya.
"Kalau dulu 4 tahun modal masih di luar, kemarin (2008) tidak. Meski memang hanya dalam 3 bulan cadangan devisa kita berkurang US$ 10 miliar," katanya.