VIVAnews - PT Matahari Putra Prima Tbk memperkirakan laba bersih sebesar Rp 7,17 triliun pada 2010 jika transaksi dengan CVC Capital Partners disetujui rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB).
"Jauh dibanding laba 2009 sebesar Rp 300 miliar," kata Direktur Keuangan Matahari Hendra Siddin dalam paparan publik di Jakarta, Jumat 5 Maret 2010.
Hendra juga mengatakan, laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) perusahaan juga akan meningkat menjadi Rp 7,82 triliun dengan asumsi penjualan sebesar Rp 8,38 triliun.
Sementara itu, tanpa transaksi, perusahaan memproyeksikan laba bersih sebesar Rp 399 miliar dengan estimasi penjualan Rp 15,44 triliun.
Perseroan juga memproyeksikan keuntungan akan bertambah dalam dua tahun mendatang setelah transaksi. Pada 2011, perseroan memperkirakan laba bersih sebesar Rp 420 miliar dan EBITDA Rp 1,01
triliun.
Sedangkan pada 2012, perseroan juga memperkirakan laba bersih Rp 586 miliar dan EBITDA Rp 1,21 triliun.
Matahari menjelaskan, paparan publik dilakukan sesuai permintaan Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK).
Sebelumnya, Ketua Bapepam-LK Fuad Rahmany meminta manajemen Matahari menunda rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) sebelum manajemen menjelaskan rencana bisnis perseroan paska pelepasan saham PT Matahari Department Store Tbk kepada CVC Capital Partners senilai Rp 7,2 triliun.
Dalam informasi yang diberikan kepada Bapepam-LK disebutkan pula Meadow akan membeli saham Matahari Department Store milik Matahari Putra Prima secara tunai sebesar Rp 5,3 triliun ditambah 20 persen saham dan waran anak perusahaan CVC. Matahari juga akan memberikan piutang senilai Rp 1 triliun.
Matahari dan CVC membentuk Meadow Asia yang memiliki modal Rp 4,2 triliun. CVC memberikan penyertaan modal sebesar Rp 3,4 triliun. Meadow Asia nantinya akan memiliki 100 persen saham Matahari Department Store melalui Meadow Indonesia.
Matahari Putra Prima berencana menjual seluruh saham pada salah satu bisnis utamanya, Matahari Department Store kepada CVC Capital Partners melalui Meadow Asia Company Limited senilai Rp 7,2 triliun.
arinto.wibowo@vivanews.com