VIVAnews - Rencana pemerintah mengembangkan Lombok sebagai daerah wisata baru mendapat sambutan dari banyak pihak. Terdapat, 4-5 investor yang tertarik berinvestasi.
Menurut Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Gita Wiryawan, investor tersebut masing-masing akan bersaing dengan Emaar yang sebelumnya sudah menyepakati untuk mengembangkan Lombok sebagai kawasan wisata terpadu.
"Investor itu ada yang dari India," ujar Gita di Kantor Menko Perekonomian usai rapat koordinasi membahas kesiapan Presiden pergi ke Australia, Selasa, 2 Maret 2010.
Dalam daftar investor, kata dia, salah satunya adalah grup besar. Sayang, siapa saja investor itu Gita masih merahasiakannya. "Pokoknya ada, prosesnya sedang bergulir," tuturnya.
Yang jelas, Gita menambahkan, dibandingkan kesepakatan dengan Emaar yang terdahulu, kali ini parameter yang ada lebih menguntungkan bagi pemerintah Indonesia.
Sementara itu, tentang nasib Emaar sendiri, statusnya akan mengikuti parameter baru tersebut. "Prosesnya 1-2 bulan ini. Yang jelas, kepemilikan pemerintah lebih meningkat dari sebelumnya. Kalau yang lalu kan timpang sekali," kata dia.
Emaar sendiri kalau tertarik, dia menambahkan, nantinya mereka akan mengikuti parameter yang baru. "Jadi, tidak ada preferencial treatment," ujar Gita.
Seperti telah diberitakan sebelumnya bahwa pemerintah, melalui Bali Tourism Development Corporation (BTDC) akan membentuk perusahaan patungan (joint venture) dengan Emaar, sebuah perusahaan berbasis di Dubai untuk mengembangkan pariwisata di Lombok.
Perwakilan BTDC terbang ke Dubai untuk melakukan kesepakatan dengan Emaar pada 6 September 2009. BTDC merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang mengembangkan investasi pariwisata di Bali dan Lombok.
Hal ini diungkapkan Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat Badrul Munir usai menemui Wakil Presiden Jusuf Kalla di Istana Wapres, Jumat, 4 September 2009.
Badrul menuturkan, nilai investasi pengembangan pariwisata di kawasan Lombok diperkirakan sebesar Rp 21 triliun. Adapun pembagian keuntungan adalah 85 persen dan 15 persen. "85 persen modal dari Emaar, 15 persen kita. Nilainya Rp 21 triliun," kata kita.
Adapun nilai investasi Indonesia antara lain dihitung dari nilai tanah seluas 1.175 hektar.
Dalam kesepakatan dengan Emaar nanti, perusahaan JVCO yang terbentuk akan mengelola pariwisata Emaar di lombok. "Nama generate-nya masih Emaar Lombok," ujar Badrul.
Rencananya, peletakan batu pertama akan dilakukan sebelum bulan Oktober. "Wapres menginginkan dilakukan sebelum Oktober," ujarnya. Namun, belum dibicarakan oleh siapa peresmian akan dilakukan.
Badrul menuturkan, hingga saat ini, belum ada permasalahan soal lahan. Sebab, surat keputusan penyerahan hak pengelolaan lahan oleh pemerintah RI sudah diterbitkan Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN).
antique.putra@vivanews.com