VIVAnews - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono optimistis bahwa perekonomian bakal tumbuh secara signifikan pada 2014.
Hal tersebut disampaikan SBY dalam pengantar memimpin rapat yang membahas soal UU APBN Perubahan 2010 di kantor Presiden di Jakarta, Kamis, 25 Februari 2010.
Menurut Presiden, ada dua skenario terkait target pertumbuhan ekonomi 2010 - 2014. Skenario pertama adalah skenario pesimis, yakni ada pertumbuhan perekonomian, tapi relatif flat. "Tak banyak, tapi ada perumbahan," kata dia.
Skenario lainnya adalah skenario paling optimistis, yakni ekonomi akan mengalami pertumbuhan signifikan. "Jadi, itu betul-betul bisa mencapai target 2014, bahkan bisa melampaui," ujarnya.
SBY tak menyebutkan angka proyeksi pertumbuhan ekonomi 2014. Namun, dalam beberapa kesempatan sebelumnya pemerintah kerap menyebutkan bahwa ekonomi akan tumbuh tinggi hingga mencapai 7 persen pada akhir masa pemerintahan SBY-Boediono.
"Nanti pada saat yang tepat akan saya kedepankan skenario optimistis itu," katanya.
Untuk mencapainya, SBY menekankan ada sejumlah prakondisi dan prasyarat, termasuk segala sesuatu yang menjadi tumpuan landasan dan lingkungan agar pertumbuhan ekonomi dapat diwujudkan. "Lingkungan dalam negeri yang stabil, jelas baik situasi politik, sosial, keamanan dan hukum," katanya.
Prasyarat berikutnya adalah sejumlah reformasi yanhg diharapkan betul-betul terwujud dalam lima tahun mendatang, termasuk kebijakan ekonomi yang pas dan tepat. "Itu komponen utama yang pertama. Komponen kedua adalah sinergi pembangunan perekonomian baik pusat maupun daerah."
Jadi, dia menekankan dengan integrasi dan koordinasi semua resources perekonomian Indonesia, serta manajemen dan kepemimpinan yang baik, maka sumber daya pertumbuhan ekonomi bisa dialirkan ke seluruh wilayah Indonesia.
SBY berharap prasyarat kondisional bisa dipenuhi, termasuk menciptakan lingkungan domestik yang kondusif, mengimplementasikan apa yang direncanakan dan diprogramkan secara efektif. Artinya, jika ada kekurangan, kontrol dan koreksi yang cepat dan tepat, maka paling tidak pertumbuhan Indonesia bisa di tengah-tengah antara yang flat dan tajam.
"Syukur-syukur jika betul-betul naik tajam," ujarnya.
heri.susanto@vivanews.com