VIVAnews - PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menaikkan peringkat empat perusahaan selama 2009. Namun, lembaga pemeringkat itu juga menurunkan peringkat lima perusahaan.
"Faktor yang mempengaruhi penurunan peringkat antara lain dampak krisis finansial global yang dialami perusahaan di industri pelayaran," kata Asistant Vice President Pefindo Niken Indriasih di kantor Pefindo, Jakarta, Rabu 24 Februari 2010.
Menurut dia, pengaruh finansial yang lebih agresif pada industri telekomunikasi, dan makanan serta minuman juga mempengaruhi penurunan peringkat itu.
Masalah likuiditas yang dialami industri pelayaran, kertas dan pulp serta telekomunikasi juga menjadi faktor lain penurunan peringkat itu.
Sementara, itu perkiraan terjadinya kenaikan harga komoditas pada 2010 akan memberikan sentimen positif bagi perusahaan yang mengandalkan sumber daya alam seperti pertambangan, perkebunan, serta pelayaran.
Hal itu berpotensi terjadi dengan asumsi perekonomian global pulih lebih cepat dan menguatnya fundamental ekonomi.
Meski demikian, Niken menambahkan, peluang kenaikan harga komoditas akan berimbas pada kenaikan harga bahan baku.
"Sektor manufaktur perlu mewaspadai hal ini, bila tidak ada efisiensi biaya dan tidak bisa menyesuaikan harga jual," kata dia.
Adapun kenaikan biaya pada dua sektor tersebut dapat mempengaruhi tingkat inflasi. "Inflasi lebih tinggi terutama bila diiringi oleh kenaikan harga BBM (bahan bakar minyak) dan tarif dasar listrik," tuturnya.
Niken juga mengingatkan sektor properti akan terpengaruh karena industri perbankan diperkirakan menaikkan suku bunga.
"Bila properti menurun, sektor konstruksi bisa terpengaruh. Kecuali bila pemerintah mempercepat pembangunan infrastruktur," ujarnya.
Menurut dia, pertumbuhan ekonomi juga masih terancam oleh pelaksanaan perdagangan bebas Asean-China (ACFTA). "Untuk sektor manufaktur seperti tekstil dan alas kaki, ini (ACFTA) akan menjadi ancaman," ujar dia.
arinto.wibowo@vivanews.com