VIVAnews - Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BPKP) tidak sepakat dengan usulan agar orang-orang pintar Indonesia di luar negeri ditarik pulang untuk membantu membangun Tanah Air.
"Biarkan saja mereka di sana, pada saatnya nanti mereka secara alamiah juga akan pulang," kata Gita di Jakarta, Kamis malam, 12 Februari 2010.
Dia mengakui memang banyak orang Indonesia yang bergelar doktor bekerja dan mencari nafkah di luar negeri. Ada banyak alasan mengapa mereka memilih di sana, termasuk soal penghargaan atas kapasitas mereka.
Ketua Persatuan Insinyur Indonesia, Said Didu juga mengungkap fenomena semakin kuatnya kecenderungan orang pintar Indonesia yang bergelar doktor dari luar negeri, memilih tinggal dan bekerja di luar negeri.
Padahal, mereka adalah doktor-doktor terbaik lulusan Yale, Cranfield, Stanford, MIT dan lain-lain. Umumnya mereka bergelut di bidang ilmu eksakta dan engineering seperti teknik, fisika, matematika komputer, dan sejenisnya.
"Ini masalah serius di depan mata, jika dibiarkan akan menimbulkan masalah besar pada jangka panjang," kata Said Didu. Ironisnya, ini belum disadari oleh pemerintah dan masyarakat pada umumnya. Akibatnya, masalah ini terus berlarut-larut sehingga merugikan Indonesia.
Namun, Gita tidak sepakat dengan pandangan itu. Dia menekankan pada saat infrastruktur dan kondisi ekonomi Indonesia siap, mereka juga akan rame-rame pulang. "Jadi, tidak perlu dipaksa, saat ekonomi negeri ini siap, mereka tentu akan pulang."
Gita memberikan contoh negeri India. Negara dengan pertumbuhan ekonomi tinggi itu, mengirim ribuan pemuda-pemudinya belajar di luar negeri. Kemudian, setelah lulus, sebagian besar dari mereka juga bekerja di luar negeri.
"Namun, setelah perangkat di India siap, mereka pun berbondong-bondong pulang kampung," katanya.