VIVAnews - George Soros, Filantropis dan pendiri Open Society Institute, pagi ini menemui Wakil Presiden, Boediono di Kantor Wakil Presiden.
Saat menemui Soros, Boediono memberikan pemaparan tentang situasi ekonomi dan finansial di Indonesia. Walau sudah tidak aktif melakukan kegiatan investasi, namun diharapkan pandangan Soros tetap memberikan pengaruh ke investor lain.
"Wapres menjelaskan tentang kondisi ekonomi dan finansial di Indonesia. Dia memberikan gambaran umum, kami tidak melakukan diskusi yang substansif," kata Soros usai menemui Boediono di Istana Wapres, 10 Februari 2010.
Menurut Juru Bicara Wapres Boediono, Yopie Hidayat, diskusi antara Soros dengan Boediono berlangsung menarik dan terbuka. Soros ingin mengetahui situasi ekonomi Indonesia, karena Indonesia dianggap potensial untuk investasi.
"Indonesia dinilai Soros masuk radar investasi. Soros menjelaskan ada minat besar untuk investasi di Indonesia," kata Yopie.
Wapres Boediono, kata Yopie, juga berharap pandangan Soros masih dapat berpengaruh di mata investor, walau Soros tidak lagi aktif di bidang investasi.
"Tidak harus dia yang mengelola. Tapi mudah-mudahan mereka terpengaruh dengan pandangan Soros," ucap Yopie.
***
Selain dikenal sebagai filantropis, Soros dikenal juga sebagai pelaku spekulan yang menyimpan dan menjual mata uang. Pada tahun 1982, dalam waktu singkat Soros berhasil meraup keuntungan 1,2 milyar dolar dalam perdagangan mata uang Poundsterling.
Saat itu Soros mendapat julukan "Pria Yang Menghancurkan Poundsterling" (The Man Who Broke the Pound). Soros juga dianggap bertanggung jawab terhadap krisis yang melanda Asia tahun 1997.
Salah satu tudingan disampaikan Perdana Menteri Malaysia saat itu, Mahathir Muhammad. Namun kini Soros lebih dikenal sebagai filantropis, terutama setelah mendirikan Open Society Intitute (OSI).