VIVAnews - Perum Perhutani berencana membangun pabrik pengolahan gondorukem di dua lokasi, yaitu Jawa Barat dan Jawa Tengah senilai Rp 160 miliar. Pabrik tersebut ditargetkan mulai beroperasi pada tahun 2011.
"Pembangunan pabrik dilakukan pada tahun ini," ujar Direktur Utama Perum Perhutani Upik Rosalina disela disela Rapat Dengar Pendapat dengan Deputi Bidang Agroindustri, Kehutanan, Percetakan, dan Penerbitan Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN), di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa, 9 Februari 2010.
Menurut Upik, pengolahan produk gondorukem tersebut diharapkan mampu memproduksi produk olahan sebanyak enam ribu ton pada tahap awal dan ditargetkan meningkat menjadi 10 ribu ton pada tahun-tahun berikutnya. Contoh produk olahan gondorukem di antaranya bahan pangan dan cat.
Rencananya produk olahan gondorukem tersebut akan ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pasar ekspor terutama ke China. Langkah itu, seiring berjalannya perjanjian perdagangan bebas ASEAN-China (ACFTA). "Kami akan mengambil peluang ekspor, khususnya derivatif gondorukem," katanya.
Selama ini, Perhutani sebagian besar mengekspor produk gondorukem dalam bentuk bahan baku sebanyak 10-20 ribu ton ke China dan 20 ribu ton ke negara-negara di Eropa. Perusahaan sendiri memproduksi gondorukem sebanyak 55-60 ribu ton ton per tahun.
"China selama ini memproduksi produk gondorukem hingga 600 ribu ton per tahun, entah mengapa mereka masih melakukan impor gondorukem," katanya.
Untuk diketahui, produk gondorukem merupakan salah satu sumber utama penghasilan Perhutani, di samping produk kayu jati.
Dari target pendapatan perusahaan tahun ini sebesar Rp 2,9 triliun, produk gondorukem mengontribusi sebesar Rp 900 miliar. "Kalau ditambah derivatif, gondorukem bisa mencapai Rp 2 triliun," katanya.
Pada tahun lalu, Perhutani berhasil memperoleh laba bersih senilai Rp 199,355 miliar atau naik dibandingkan tahun sebelumnya Rp 164,139 miliar. Sedangkan target dividen perusahaan tahun lalu, diperkirakan mencapai Rp 24,53 miliar, meningkat dibanding tahun sebelumnya Rp 23,33 miliar.
Namun, sejak tahun 2007-2009, target dividen perusahaan tersebut tidak disetorkan kepada pemerintah melainkan dikembalikan kepada perusahaan untuk rehabilitasi areal kritis.
antique.putra@vivanews.com