Bisnis

Menkeu: Utang Indonesia Tak Mengkhawatirkan

Krisis utang Eropa diyakini tak akan berpengaruh ke sini.

Selasa, 9 Februari 2010, 12:14 WIB
Umi Kalsum, Agus Dwi Darmawan
Menkeu Sri Mulyani (Andika Wahyu)

VIVAnews - Pemerintah memastikan tidak ada masalah dengan utang, baik utang luar negeri maupun dalam negeri. Bahkan tingkat utang Indonesia semakin membaik meski krisis utang Eropa sedang terjadi.

Bahkan, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan dalam 5-10 tahun terakhir, ekspektasi atas utang Indonesia menguat signifikan.

"Terhadap ekspektasi surat utang Indonesia karena APBN masih dianggap relatif baik, kinerja bonds kita terhadap 5-10 tahun yieldnya menunjukkan pembaikan yang cukup signifikan," kata Sri Mulyani di Jakarta, Selasa 9 Februari 2010.

Sri Mulyani juga yakin dari sisi rencana penerbitan surat utang Indonesia tahun ini, kapasitas market yang tersedia diyakini masih bisa menyerap. "Saya tidak melihat ada persoalan yang mengkhawatirkan," kata dia.

Dalam kasus krisis utang Eropa, pemerintah masih akan terus melihat penguatan euro terhadap dolar. Pasalnya pada dua tahun lalu, semua orang menganggap euro adalah mata uang yang paling terpercaya karena dia ditopang oleh suatu kawasan yang sehat. Tapi nyatanya sekarang, banyak negara-negara terutama di Eropa barat ekonominya mulai merosot.

"Kami akan lihat pengaruhnya akan kelihatan dari nilai tukar. Tapi komposisi melemahnya dolar ini, akan dikombinasikan dengan yen yang juga ikut mempengaruhi," kata dia.

Saat ini harga minyak mentah di bursa New York semakin mendekat ke level US$ 72/barel. Para investor melihat harga minyak sudah sedemikian rendah dalam beberapa pekan terakhir sehingga mereka melakukan aksi borong, namun kenaikan harga tersendat oleh kekhawatiran investor atas krisis utang di Eropa.

Harga minyak diperkirakan rentan untuk kembali turun. Pasalnya, para investor minyak turut prihatin atas krisis utang di sejumlah negara Eropa, yaitu Yunani, Spanyol, dan Portugal. Kesulitan negara-negara dalam mengatasi besarnya defisit anggaran membuat banyak investor masih mengalihkan investasi mereka dari komoditas dan saham ke perdagangan dolar, yang dipandang lebih aman.

Itulah sebabnya kurs dolar mencapai rekor tertinggi dalam delapan bulan terakhir atas euro. Pada perdagangan Senin, kurs dolar atas euro menguat dari US$1,3585 pada Jumat pekan lalu menjadi US$1,3682.

• VIVAnews
Rating
Komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atau 
  
webtorial