VIVAnews - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengingatkan kembali situasi yang terjadi pada saat krisis global pada 2008.
Hal itu diungkapkan SBY saat memberikan kuliah umum di hari Pers Nasional di Palembang, Selasa, 9 Februari 2010.
Pada saat itu, SBY mengaku menghadiri berbagai pertemuan puncak dunia sebagai wakil Indonesia. Di antaranya adalah tiga kali pertemuan G-20, satu kali G-8, satu kali pertemuan Asia-Eropa, 3 kali Pertemuan Asean, dan dua kali sidang PBB.
"Di situlah saya bertemu dengan pemimpin dunia, semua panik dan cemas," kata SBY. Bahkan, dia menegaskan banyak pemimpin dunia yang tidak siap.
Tidak jelas mengapa SBY kerap menyinggung soal krisis 2008 di tengah perdebatan soal kebijakan bail-out Bank Century yang masih memanaskan situasi politik di Tanah Air. Pada tahun itu, bail-out Century diputuskan dan menimbulkan kontroversi hingga saat ini.
SBY menekankan situasi krisis 2008 berbeda dengan 1998. Pada 1998, krisis hanya berdampak di Asia. Namun, pada 2008, dunia menghadapi persoalan luar biasa, khususnya negara barat.
"Tapi, syukurlah, Indonesia bisa lulus dari krisis dan sekarang berada dalam kondisi baik," kata Yudhoyono.
Apa yang dirasakan bangsa ini secara domestik adalah buah dari tindakan yang diambil pemerintah pada saat itu. Dengan demikian, Indonesia tidak merasakan dampak seperti krisis 10 tahun sebelumnya.
"Dunia juga anggap kita kompeten, karena pertumbuhan Indonesia adalah yang positif seperti China dan India."
heri.susanto@vivanews.com