VIVAnews - Di tengah gempuran produk China, produk batik sutra lokal justru diakui lebih berkualitas.
Bahan baku tekstil sutra asal Kabupaten Wajo Sulawesi Selatan dinilai lebih baik mutunya ketimbang China, karena lebih bertekstur.
"Kabupaten Wajo bisa memproduksi sutra ATBM (alat tenun bukan mesin) untuk bahan baku batik sutra, kualitasnya bagus dibandingkan China karena ada teksturnya," kata Sekretaris Daerah Propinsi DI Yogyakarta, Tri Harjun Ismaji di sela-sela Pameran Batik dan Kerajinan Yogyakarta di Plasa Depperin, Jakarta, Senin, 8 Februari 2010.
Untuk itulah, saat pameran juga diteken MoU antara Dekranasda DI Yogyakarta dan Dekranasda Sulawesi Selatan untuk penyediaan bahan baku tekstil sutra.
Melalui MoU tersebut, produsen tekstil sutra di Sulawesi Selatan akan menyediakan bahan baku untuk pengrajin batik sutra di Yogyakarta.
Menurut Tri Harjun, meski masih sedikit, penggunaan tekstil sutra Wajo makin lama makin meningkat. Bahkan berpotensi untuk menggeser bahan baku tekstil dari China, meski harganya jauh lebih mahal.
"Tren penggunaan sutra Wajo makin meningkat di Yogyakarta," ujarnya.
Namun, meski permintaan sutra Wajo meningkat, produksinya masih sangat terbatas.
"Kita punya masalah di budidaya kokon (kepompong sutra) sehingga produksi masih belum terlalu banyak," kata Direktur Jenderal Industri Kecil dan Menengah Kementerian Perindustrian Fauzi Aziz.
Produksi tekstil sutra di Wajo baru sekitar 2 juta meter per tahun. Itu hanya memasok 10 persen dari kebutuhan nasional setiap tahunnya.
Kesulitan pengembangan kokon dikarenakan masih dibudidaya di rumah-rumah, padahal agar produksinya massal harus dibudidayakan di kebun yang luas.
"Kita masih punya potensi besar untuk pengembangan sutra di Wajo. Ini tantangan kita untuk mengembangkan, kalau tidak nanti diisi oleh sutra Thailand dan China," kata dia.
Tak hanya pengrajin Yogyakarta, pembatik dari Pekalongan juga menggunakan sutra Wajo.