VIVAnews - Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia terus bermain di zona merah, sejak pembukaan transaksi pagi tadi. Padahal, bursa regional bergerak variatif.
Menurut PT CIMB Niaga Securities dalam risetnya yang diterima VIVAnews hari ini, sepertinya IHSG masih melemah karena melanjutkan momentum perdagangan akhir pekan lalu yang negatif, seiring penurunan harga-harga komoditas di pasar dunia.
Sekuritas tersebut menambahkan, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat juga bergerak konsolidasi di kisaran level Rp 9.400-9.500.
Indeks akhir sesi I Senin, 8 Februari 2010, anjlok 60,75 poin atau 2,42 persen ke level 2.458,23, dari awal transaksi pagi tadi yang hanya terkoreksi 3,67 poin (0,15 persen) di posisi 2.515,30.
Total nilai transaksi yang dibukukan mencapai Rp 1,88 triliun dan volume tercatat 3,84 juta lot, dengan frekuensi 35.246 kali. Sebanyak 27 saham menguat, 147 melemah, 46 stagnan, serta 266 saham tidak terjadi transaksi.
Saham-saham komoditas yang melemah cukup besar antara lain PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) turun Rp 1.400 (4,65 persen) di posisi Rp 28.700, PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA) terkoreksi Rp 600 atau 3,71 persen menjadi Rp 15.550, dan PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) melemah Rp 150 (1,79 persen) ke level Rp 8.200.
Sedangkan bursa Asia saat IHSG tutup bergerak variatif. Indeks Hang Seng terkoreksi 41,11 poin (0,21 persen) di posisi 19.623,97, Nikkei 225 turun 93,43 atau 0,93 persen menjadi 9.963,94, dan Straits Times menguat 8,94 poin atau 0,33 persen ke level 2.692,50.
Sementara itu, berdasarkan data transaksi perdagangan Bloomberg, rupiah pukul 12.00 WIB, berada di posisi 9.440 per dolar AS. Sedangkan menurut data RTI, mata uang lokal tersebut berada di level 9.365/US$.
antique.putra@vivanews.com